Tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mencapai standar kecantikan yang diidolakan.
Seperti yang diungkapkan dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi estetik RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, dr Djoned Sananto, SpBP-RE (K).
Menurutnya, saat ini banyak cara untuk mempercantik wajah, dan suntik filler wajah menjadi salah satunya yang terus menjadi tren.
”Filler wajah sendiri merupakan cara untuk mengisi atau memperbaiki kekosongan volume dari kolagen kulit, serta membentuk atau memperbaiki kontur wajah,” terangnya.
Karenanya, filler wajah bisa digunakan untuk memaksimalkan penampilan. Seperti mengisi area pipi, menghilangkan garis senyum, membuat bibir yang tipis menjadi penuh, membuat dagu yang pendek menjadi panjang, dan sebagainya.
Selain itu, disebutkannya, filler juga bisa digunakan untuk mengisi kekosongan jaringan pada bekas luka atau untuk mengisi lubang bekas jerawat. ”Sehingga wajah tampak lebih muda, lebih indah dan lebih proporsional,” imbuh dia.
Berdasarkan daya tahannya, filler wajah umumnya terbagi menjadi tiga jenis. Mulai dari nonpermanen, semipermanen, dan permanen. Kendati demikian, hingga kini filler paling aman dan paling sering digunakan adalah filler yang temporer.
”Khusus filler nonpermanen bahan dasarnya dari hyaluronic acid atau semacam kolagen yang berfungsi menambah volume pada kulit. Sehingga terlihat lebih kencang dan berisi,” tutur dia.
Hyaluronic acid yang digunakan dalam filler wajah, sambung Djoned, umumnya tidak berasal dari protein hewan.
Sehingga, sifatnya cenderung memiliki risiko alergi yang kecil dan dapat diserap oleh tubuh. ”Karena sifatnya temporary, jadi hanya bisa bertahan hingga satu atau dua tahun,” ulas dia.
Walaupun proses pengerjaan filler terbilang cepat, namun suntik kecantikan ini juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan.
Djoned menyebut, beberapa dampak yang ditimbulkan bisa berupa alergi apabila memiliki kulit sensitif serta cedera pada pembuluh darah.
”Kalau kelebihan volume, karena sifatnya cairan bisa ikut mengalir bersama pembuluh darah,” pungkasnya. (oce/ron)
Editor : Fendy Hermansyah