Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bonsai, Hobi Mahal, Butuh Ketelatenan

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 22 Oktober 2023 | 14:30 WIB

SENIMAN TANAMAN: Nurul Huda Bisri sedang merawat bonsai santigi miliknya.
SENIMAN TANAMAN: Nurul Huda Bisri sedang merawat bonsai santigi miliknya.
HOBI bonsai tak lekang oleh zaman. Seni mengkerdilkan tanaman itu tetap digandrungi di tengah silih ganti tren tanaman hias. Bagi para penggemarnya, merawat bonsai adalah wujud terindah dari sebuah ketelatenan.

Di bawah pohon mangga, di antara santigi dan kelampis hitam, Nurul Huda Bisri sibuk melapisi pot semen dengan adukan baru. Kalau kering, pot itu akan dipakai menanam bonsai anyar.

Lahan kosong di samping rumah warga Dusun Daleman, Desa Japan, Kecamatan Sooko, tersebut memang tak ubahnya laboratorium tanaman kerdil.

Selain dua bonsai di muka jalan gang, santigi dan klampis hitam, di sana terdapat berbagai jenis tanaman mini lain.

Seperti bonsai asem, sianci, saeng simbur Vietnam, dan mutiara.

Semua tanaman imut tersebut adalah karya tangan Nurul sendiri. Puluhan bonsai itu tertata rapi dengan tatakan pilar bekas tertinggi satu meteran.

Sudah 25 tahun pria yang berdinas di Pengkab Mojokerto ini menjadi penghobi bonsai.

Nurul muda adalah seorang pecinta karya seni, khususnya seni lukis. Minatnya pada estetika membuat pria 55 tahun tersebut akhirnya jatuh cinta dengan seni bonsai.

’’Keindahan bonsai ternyata tidak hanya soal kerindangan, tapi bagaimana menyesuaikan karakter masing-masing pohon sebagaimana dengan di alamnya,’’ ujar pegawai dinas sosial tersebut saat ditemui Jumat (20/10) lalu.

Dari seorang penikmat, Nurul kemudian menjadi seniman tanaman alias peracik bonsai. Berbagai ’’bibit’’ pohon bakal bonsai ia datangkan dari tempat aslinya.

Kecuali santigi yang dibeli dari Sumbawa, tempat tanaman pesisir dengan nama lain stigi itu tumbuh, sebagian besar berasal dari hutan Pacet, Jember, dan Wonosalam (Jombang).

Harga bonggol kayu tersebut tidak murah. Maharnya bervariasi dari ratusan sampai jutaan rupiah. Tapi, namanya hobi, bagi Nurul harga segitu tak masalah.

Bukan cuma soal harga, hobi mahal ini juga membutuhkan ketelatenan. Tantangan utama merawat bonsai pertama-tama adalah membuat tanaman perdu itu hidup.

Olehnya, Nurul sebisa mungkin memperlakukan pohon sesuai dengan habitat aslinya.

’’Pohon sentigi saya siram dengan air payau setiap dua hari sekali, karena di tempat aslinya pohon ini kan sering terkena ombak laut,’’ tuturnya.

Kalau sudah tumbuh, bonsai tinggal dibentuk. Pada proses inilah, seperti dikatakan Nurul, insting bermain. Nurul cenderung berpaham mengikuti alur asli pohon.

Lekukan demi lekukan ranting pohon ia sesuaikan dengan bentuk bawaan si tanaman. ’’Tidak ada trik khusus, yang penting telaten,’’ ucapnya.

Bonsai-bonsai berusia 1-2 tahun buatan Nurul sudah dipamerkan ke berbagai ajang di sejumlah daerah.

Di sinilah, lagi-lagi frasa hobi mahal kembali muncul. Para penggila bonsai berani jor-joran hingga ratusan juga demi menebus bonsai yang disuka.

Meski tak sampai tingkatan itu, Nurul mengaku pernah menjual bonsai karyanya dengan harga sekitar Rp 5 juta.

’’Kalau saya ini kan cuma senang saja. Saking hobinya kalau istirahat kerja, saya pulang sebentar untuk merawat bonsai ini,’’ lontarnya disambung tawa. (adi/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#bonsai #Hobi #mojokerto