Seperti yang diungkapkan Agnes Magdalena. Dia mulai menato tubuhnya sejak 2011 silam. Menurutnya, tato merupakan sebuah karya seni yang memiliki filosofi dan makna setiap pengalaman hidup yang dilaluinya.
”Jadi lebih seperti diary. Tubuhku jadi kanvas dari setiap pengalaman hidup dan rasa sakitnya,” kata Agnes, sapaan karibnya.
Wanita 32 tahun ini memilih gambar dream catcher sebagai tato pertamanya. Dia mengaku, pemasangan tato memang membuat ketagihan. Alasannya, justru dari rasa sakit saat proses mengukir tato di tubuhnya.
”Karena rasa sakit itu nanti juga bakal dapat hasil gambar yang indah, jadi memang nagih banget,” ulasnya.
Total ada 18 tato yang dimilikinya, berupa simbol atau gambar. Agnes menuturkan, belakangan ini motif tato tulisan dan gambar kecil atau patchwork marak diminati.
Kendati sudah punya belasan tato, dia berencana bakal menambah gambar lainnya.
”Rencana mau tambah lagi (tato) dalam waktu dekat ini. Karena tato itu seolah gambar yang bercerita, jadi memang nggak bisa kalau cuma satu gambar kecil, rasanya masih kurang,” tutur dia.
Rasa ketagihan yang ditimbulkan pasca pemasangan tato juga dirasakan Brahmanta Andrew. Dia mengaku saking sukanya, dia kini punya 10 koleksi tato di tubuhnya.
Awalnya, dia hanya menggambar tato salib karena terlihat keren. ”Bikin ketagihan mau tato lagi karena rasanya kalau ada area kulit yang kosong bagusnya di gambar, jadi pengen nambah,” jelasnya.
Meski proses pemasangannya sakit, namun dia merasa puas dengan hasil tato yang didapat. Andrew cenderung lebih menyukai tato berupa gambar.
Menurutnya, tato gambar terlihat keren dan bisa meng-cover seluruh permukaan kulit yang kosong sehingga tampak estetik.
”Kalau tato saya lebih banyak gambar wanita, binatang sama biomechanical,” pungkasnya. (oce/ron)
Editor : Fendy Hermansyah