Penataan barang dan ornamen pada setiap ruangan kian diperhatikan sedetail mungkin agar rumah terasa nyaman dan indah. Sehingga bisa membuat penghuninya lebih betah di rumah.
Masyarakat Mojokerto sendiri sejatinya sudah melek desain interior sejak tahun 2015 silam. Diawali dengan tren rustic atau unfinished yang banyak menonjolkan kayu tua sebagai ornamennya. Bahkan, desain asal Amerika ini tidak hanya mendominasi pada bangunan rumah atau hunian.
Tetapi juga merambah pada cafe hingga warung kopi yang tersebar se-antero Mojokerto. Baru setelah itu, satu per satu beberapa desain interior luar bermunculan, mulai dari gaya industrial, minimalis, modern, scandinavian, hingga mediteranian.
’’Kalau di Mojokerto sendiri, orang sudah melek itu sejak tahun 2015. Namun baru tahun 2018-an, orang mulai banyak yang merealisasikan interior rumahnya sesuai dengan perkembangan zaman,’’ ujar desainer asal Jabon, Mojoanyar, Ahmad Nurhadi.
Namun seiring perkembangan waktu, konsep minimalis dan modern menjadi yang paling banyak diminati. Hal ini tak lepas dari karakter penghuninya sendiri yang disibukkan dengan bermacam aktivitas.
Sehingga saat di rumah, mereka memerlukan banyak kelonggaran ruangan agar bisa menikmati waktu santainya. ’’Karena rumah itu tidak semata-mata hanya indah, tetapi juga harus nyaman ditinggali,’’ imbuhnya.
Tidak hanya di rumah, kesederhanaan gaya desain asal Jepang ini juga merambah pada perkantoran hingga toko. Dengan mengutamakan keluasan area, para desainer tak perlu banyak memberi sentuhan ornamen untuk bisa menyulap ruangan menjadi estetik.
’’Tidak dibuat untuk memberi kesan dingin dan kaku, tetapi lebih sederhana dan alami,’’ imbuhnya.
Pun demikian jika dikombinasikan dengan gaya modern, karakteristiknya yang bersih, dan bergaris membuat desainer hanya memerlukan sedikit furnitur yang ergonomi. Di mana, bentuk dan ukurannya disesuaikan dengan kebiasaan penghuninya.
Sehingga isi ruangan tidak sekadar indah, tetapi juga harus nyaman dinikmati oleh penghuninya. ’’Misalkan yang punya rumah ini tubuhnya tinggi, maka meja kursinya juga harus ada yang tinggi. Agar terlihat seimbang dan tidak dipaksakan,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah