Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sate Pak Jamil, Kuliner Khas Kota Mojokerto, Pakai Bahan Baku Berkualitas

Farisma Romawan • Minggu, 13 Agustus 2023 | 16:40 WIB

ENAK: Satu porsi sate Pak Jamil dengan kuliner pecel.
ENAK: Satu porsi sate Pak Jamil dengan kuliner pecel.
KOTA Mojokerto tak hanya terkenal dengan Sejarah Majapahitnya. Khazanah kulinernya yang lezat dan bergizi juga tak luput dari perhatian para pelancong hingga food vlogger.

Tak sekadar prosesnya yang masih mengandalkan cara manual, citarasa kelezatannya juga tak lepas dari pilihan bahan baku makanannya yang berkualitas, sehingga membuat para pelanggannya enggan berpaling.

Salah satu kuliner legendaris yang masih terjaga konsumennya adalah warung sate Pak Jamil yang berada di ruko Jalan Veteran atau sisi utara Alun-Alun Kota Onde-Onde. Eksis sejak tahun 1970, jumlah pelanggan warung sate ini tak menurun sedikitpun.

Setiap hari, kuliner yang sudah turun di dua generasi ini masih mampu menghabiskan 40-50 kilogram (kg) daging sapi atau setara seribu tusuk sate.

Dengan jumlah tersebut, bisa diasumsikan ada sekitar 300 orang yang mampir dan menyantap sate daging sapi berbalut bumbu kacang yang khas tersebut.

’’Ya, sekitar seribu tusuklah. Kalau jumlah pelanggannya, kami nggak menghitung, bisa sampai ratusan,’’ ujar Mila, anak pertama sekaligus owner warung sate pak Jamil.

Meski ramai dan terkenal, namun Mila mengaku tidak berniat membuka cabang berpindah tempat.

Hal ini dia niatkan agar citarasa dan kenangan pelanggan terhadap satenya tak berpaling. Bahkan, untuk bisa menjaga kenikmatan makanannya, Mila yang dibantu 13 pegawai harus memilih bahan daging sapi yang berkualitas.

Yakni berupa daging tenderloin yang terletak di daerah punggung sapi. Daging ini terkenal rendah lemak dan empuk, sehingga tak perlu racikan atau proses ribet saat memasaknya menjadi sate.

’’Memang full daging dan tidak ada lemak atau jeroannya. Kami memang memesan dan memilih sendiri dagingnya dan tidak perlu direbus. Langsung saja dibumbui dan dibalut bumbu kacang kemudian dibakar di atas bara arang,’’ ujarnya.

Selain kualitas bahan, Mila juga mempertahankan proses pembuatan satenya yang sebagian besar masih menggunakan manual atau tanpa mesin.

Termasuk bentuk satenya yang gemuk dan dibalut bumbu kacang dan kecap yang meresap sampai ke dalam. Dengan cara itu, maka pelanggan tetap percaya bahwa citarasa satenya tak berubah meski sudah puluhan tahun berdiri.

’’Ya semuanya masih sama seperti dulu ketika bapak (pak Jamil, Red) saya yang jualan, dan kami tidak buka cabang di tempat lain,’’ tegasnya.

Untuk harga sendiri, Mila tak mematok harga terlampau mahal. Untuk satu porsi sate nasi pecel dengan lauk dua tusuk sate, dia hargai Rp 26 ribu saja, atau per tusuk sate dihargai Rp 9.500.

Selain nasi pecel, makanan yang disajikan bersama sate diantaranya sayur asem, rawon, hingga sup iga. Untuk jam operasional, warung sate ini buka setiap hari sejak pukul 08.00 hingga 14.00. (far/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#sate pak jamil #kuliner khas #Kota Mojokerto