TAK jarang, para penghobi harus berburu event atau festival untuk bisa menerbangkan layang-layang rakitannya. Bentuknya pun bermacam-macam.
Mulai dari yang dua dimensi, seperti layangan gapangan, bentuk pesawat, delta, hingga layangan ketupat yang sederhana. Lalu juga bentuk tiga dimensi seperti layangan naga, kapal, kubus, hingga yang paling rumit seperti bentuk paus dan beberapa bentuk fauna lainnya.
Untuk bisa merakit layangan hias yang indah, tak jarang para penghobi harus mengabiskan uang hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitannya.
Bahan-bahan dasar seperti kertas wajik, plastik, kain parasut, lem, kayu bambu, hingga tali senar maupun tali tambang seolah tak ternilai harganya ketika sudah berubah bentuk dan mampu mengudara di angkasa.
Belum lagi ketika layangan tersebut mampu dikendalikan dengan manuver yang mengundang decak kagum warga yang menyaksikan.
Seolah ada kepuasan yang tak ternilai harganya di dalam benak pilot atau pemilik layang-layang.
’’Yang mereka cari adalah bagaimana bisa berekspresi dengan layang-layang. Karena untuk bisa menerbangkan dan mengendalikan, butuh perjuangan mulai dari merancang, merakit, memasang tali goci (puspang), hingga menerbangkannya,’’ ujar pegiat seni layang-layang, Kukun Triyoga kemarin.
Di Mojokerto sendiri, layang-layang banyak digemari warga di sekitar Mojosari dan utara sungai. Keberadaan tanah lapang di sekitar persawahan atau sungai besar menjadi spot yang tepat untuk menerbangkan layang-layang.
Waktunya pun antara bulan Juli hingga September atau memasuki musim kemarau. Tak jarang, para penghobi juga ikut mengadakan atau mengikuti festival dan perlombaan dengan dua kategori yang sering dipertandingkan, yakni gapangan dan sambitan.
Untuk gapangan, dinilai dari tingkat keindahan bentuk, tingkat simetri, dan manuver yang diciptakan. Termasuk bunyi suara yang dihasilkan dari getaran senar di layang-layang saat di udara.
Sementara kategori sambitan, berdasarkan ketahanan layang-layang saat beradu saling potong diudara. Meski hadiah yang diperebutkan tak terlalu besar, tak jarang para penghobi justru berburu festival demi bisa bermain dan bersilaturahim dengan sesama penggemar.
’’Karena mungkin layang-layang ini baru resmi tergabung dalam Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI), mungkin hadiahnya tak sebesar hobi lainnya seperti burung berkicau atau lomba memancing,’’ pungkas Kukun. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah