BEBERAPA kaum muda di Mojokerto bahkan telah menekuni dunia tari kontemporer sejak dini. Meski belum bisa menjadi pijakan hidup, namun geliat modern dance setiap tahun terus tubuh dengan regenerasi dancer dan jenis tariannnya.
Seperti grup dance Puri is Possible, asal SMAN 1 Puri yang berhasil menjuarai turnamen Kajari Cup beberapa waktu lalu. Elsa Ananta, Bernadine Adelia Tri Hapsari, Felicia Mutiara Wira Agatha, Aurellia Fairuz Hasna hingga Teeesalonika Putri mengaku bangga dengan predikat yang tersemat di dada mereka.
’’Seperti ada pride-nya baik untuk diri sendiri atau sekolah. Kami ingin menunjukkan bahwa dengan modern dance, kami bisa eksis dalam prestasi,’’ ujar sang kapten, Elsa Ananta.
Namun untuk bisa meraih pride tersebut, butuh effort yang tak biasa. Utamanya soal latihan yang harus mereka lalukan setiap hari agar bisa kompak dan dan seirama. Energi dan waktu bahkan terpaksa mereka relakan demi bisa perform maksimal.
’’Latihannya setiap hari selama dua minggu full agar konsentrasi penuh. karena syaratnya bisa tampil maksimal itu harus powerfull, kompak, ekspresif, dan rapi,’’ tegas Adelia.
Tak hanya itu, untuk bisa memenuhi syarat sebagai dancer terbaik, mereka juga dituntut hafal dan variatif dengan bermacam gerakan. Dasar-dasar seperti waacking, tutting, hingga breaking harus bisa dipraktekkan di luar kepala.
Belum lagi soal konsep yang harus beralur cerita dan menyesuaikan alunan musik electronic music dance (EDM) layaknya teatrikal atau drama musikal.
Seperti yang tengah mereka siapkan untuk ajang berikutnya yang lebih prestisius Agustus nanti di Surabaya. Undergorund dan Dark Feminine sengaja mereka usung menyesuaikan dengan hypening tema tersebut di kalangan milenial.
’’Alur ceritanya harus jelas. Karena setiap kompetisi pasti ada tema yang diusung,’’ tambah Mutiara.
Mereka juga berharap modern dance tak lagi dicibir sebagai budaya impor yang merusak. Sebab, tarian kini tidak sekadar seni tanpa masa depan, tapi bisa menjadi ladang berkarir demi meraih cita-cita di masa depan.
Bahkan beberapa kampus atau perguruan tinggi kini telah memasukkan dance kontemporer sebagai bahan studi yang bisa dipraktekkan di dunia pendidikan.
’’Saya sendiri merasakan bahwa menjadi dancer profesional itu tidak sekadar angan-angan tapi sudah menjadi ladang penghasilan dalam beberapa pertunjukan,’’ pungkas pembimbing modern dance SMAN 1 Puri, Halimatussa’diyah Ayuningtyas. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah