Dinilai mampu mengasah kreativitas penari dan menyuguhkan ide-ide segar dalam rupa koreografi, membuat sekolah memasukkan modern dance sebagai bagian dari ekstrakurikuler atau ekskul dance.
Seperti SMAN 1 Sooko. Lebih dari tiga tahun terakhir modern dance yang identik dengan cheerleader ini menjelma menjadi ekskul unggulan.
’’Dari modern dance ini juga banyak prestasi yang didapat. Baik kompetisi tingkat daerah atau nasional, hampir setiap tahun didapat anak-anak,’’ ungkap Kepala SMAN 1 Sooko Sutoyo.
Menurutnya, seni tari satu ini punya daya tarik tersendiri bagi kalangan siswa. Utamanya, mengasah kreativitas para penari muda untuk mengembangkan gerakannya. Yang biasanya diperuntukkan pada tema-tema tertentu.
’’Untuk gerakannya, kami berikan ruang untuk anak-anak bebas berkreasi. Tapi, kami arahkan agar mereka mengutamakan tata krama dan sopan santun,’’ jelas pria yang juga sebagai dosen Universitas Bina Sehat PPNI ini.
Hal itu yang membuat ekstrakurikuler dance silih berganti diisi siswi berbakat. Tahun ini, setidaknya sekitar 20 murid mengisi formasi modern dance SMAN 1 Sooko. Sejumlah konsep segar pun silih berganti dilahirkan dalam bentuk koreografi, ekspresi, hingga kostum.
Belakangan ini, lantaran tak ingin menghilangkan identitas bangsa, kostum para penari modern dance pun diberi sentuhan batik. Sehingga, membuat penampilan mereka semakin charming.
’’Jadi konsepnya seperti apa, kami sebagai guru mengarahkan dan mendukung mereka untuk mengembangkan bakatnya,’’ ujar Sutoyo.
Adanya ekskul dance ini, sekaligus menjadi wadah anak didiknya untuk berprestasi sesuai masing-masing minat dan bakat. Sehingga, asas manfaat kedepannya turut diperoleh para penari tersebut.
’’Dari prestasi yang diperoleh itu bisa menjadi modal mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Karena mengembangkan prestasi peserta didik ini salah satu tujuan amanat Pasal 3 UU Pendidikan No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,’’ tandas pria asal Sidoarjo ini. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah