Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tren Sulam Bibir Berisiko Ganggu Kesehatan

Fendy Hermansyah • Minggu, 18 Juni 2023 | 16:00 WIB

NGETREN: Shinta Puspita tengah melayani klien sulam bibir di studio kecantikannya.
NGETREN: Shinta Puspita tengah melayani klien sulam bibir di studio kecantikannya.
SULAM bibir bisa menjadi alternatif perawatan kecantikan untuk mendapat bibir yang indah dan tampak merona tanpa olesan lipstik atau kosmetik sejenis. Namun, kaum hawa yang akan melakukan prosedur kosmetika satu ini mesti mempertimbangkan efek samping yang ditimbulkan. Sebab, sulam bibir dinilai berisiko tinggi memicu sejumlah gangguan kesehatan.

Bagi kaum hawa, mungkin sudah tidak asing lagi dengan salah satu perawatan kecantikan satu ini. Sulam bibir atau lip blushing dikenal sebagai salah satu metode mempercantik dan memperindah bibir wanita agar tampil memesona. Perawatan ini bermanfaat untuk mencerahkan warna dan merapikan garis bibir walau bersifat semipermanen dan harus diulang setidaknya setiap 2-5 tahun sekali.

Tak jauh berbeda dengan proses pembuatan tato semipermanen, sulam bibir juga dilakukan dengan menyuntikkan tinta ke area bibir. Warna tinta pun bisa dipilih sesuai dengan warna bibir yang diinginkan. Lantaran prosedurnya yang menggunakan jarum untuk menyuntikkan pigmen ke dalam lapisan bibir, perawatan satu ini dinilai riskan.

Tak pelak, sulam bibir di Mojokerto sudah kurang dilirik kaum hawa. ’’Menurut kami sulam bibir ini sudah tidak ngetren (di Mojokerto). Dari sisi kesehatan juga risikonya tinggi,’’ ungkap Kabid Yanmed RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto dr Achmad Rheza.

Meski dinilai mampu menambah keindahan bibir, ada sejumlah risiko kesehatan yang membayangi. Di antaranya, infeksi dan penyakit menular dari penggunaan jarum suntik yang tidak steril, peradangan kulit yang membuat pembengkakan bibir, maupun memicu reaksi alergi. Proses sulam bibir yang menimbulkan luka ringan, memicu adanya jaringan parut jika proses penyembuhan tidak sempurna.

Sulam bibir juga dapat memicu gangguan lapisan epidermis bibir yang membuat bibir lebih tipis dan sensitif. Hal ini dapat membuat bibir mengalami sensasi seperti terbakar saat makan makanan pedas atau panas. ’’Selain tidak terlalu ngetren, (melihat risiko dan dampanya itu) sulam bibir bukan kompetensi dokter,’’ ujar dokter spesialis kulit dan kelamin RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto, dr Dyah Ratri Anggarini, SpKK menambahkan.

Sehingga, para ahli menganjurkan perawatan bibir secara alami. Di antaranya, dengan menjaga bibir tetap terhidrasi dengan minum air putih cukup, menggunakan lip balm non-iritasi, menggunakan masker kunyit, hingga scrub gula.

Menurutnya, risiko besar yang membayangi prosedur tato kosmetik ini membuat perawatan kecantikan satu ini tenggelam dengan tren perawatan lainnya. Kini, lanjut dr Dyah, kaum hawa di Mojokerto tengah menggandrungi perawatan skin booster. Yakni perawatan kulit wajah dengan menginjeksi sejumlah komponen zat agar kulit makin kenyal dan lembab kulit sehingga bisa mencegah munculnya kerutan dan tanda-tanda penuaan. ’’Sekarang perawatan skin booster lebih banyak disuka karena hasilnya memang bagus,’’ tandasnya. (vad/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#kesehatan #sulam bibir