Lato-lato sendiri adalah permainan yang terbuat dari dua bola dari plastik keras. Lalu, keduanya dihubungkan dengan seutas tali beserta pegangannya. Salah satu orang tua, Erna Fidanayanti mengaku, semenjak ada permainan lato-lato, kedua anaknya jarang bermain gadget lagi.
Warga Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon ini menyebutkan, permainan jadul tersebut menarik perhatian dua buah hatinya karena banyak penjual yang memasarkan mainan tersebut. ’’Karena anak sekitar rumah juga pada mainan ini. Akhirnya sekarang hampir seharian mainan lato-lato terus, gak pernah pegang gadget lagi,’’ paparnya.
Menurut Erna sendiri, permainan jadul yang dulunya dijuluki etek-etek itu kini memang tengah booming. Sebab, di beberapa video media sosial, permainan itu viral. ’’Di TikTok dan Instagram banyak yang buat video tek-tek ini, makanya anak-anak akhirnya pada ikutan mainan. Tapi syukur, bisa ngurangin mainan gadget terus,’’ ujar wanita 34 tahun ini.
Permainan lato-lato yang kini tengah viral juga mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Mojokerto. Pasalnya, permainan jadul tersebut dinilai mampu mengalihkan perhatian dan ketergantungan anak pada gadget. ’’Permainan lato-lato, atau yang dulunya dikenal etek-etek ini memang sangat membawa pengaruh besar buat anak-anak. Karena intensitas mereka terhadap gadget juga akhirnya berkurang,’’ ujar Kabid Kebudayaan Dinas P dan K Kota Mojokerto Mudjoko.
Mudjoko menuturkan, lato-lato yang kini banyak dijual di pasaran, sebagai bentuk salah satu pelestarian permainan tradisional. Meskipun kini, penyebutan namanya berbeda dengan zaman dahulu. ’’Kami mendukung munculnya kembali permainan tradisional di kalangan masyarakat. Bahkan, jika memungkinkan, lato-lato ini nantinya bisa kami masukkan ke dalam program pembelajaran di kota,’’ tandasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah