Ya, booming sepatu thrift dua tahun terakhir memang menjadi surga bagi kolektor sepatu branded, khususnya di Mojokerto. Berbagai jenis genre dan brand sepatu bekas hadir dengan harga yang bisa ditawar. Meski sekedar barang second, ternyata banyak kolektor yang mengincarnya. Bahkan, sejumlah penjual harus kewalahan mencari barang sesuai selera pelanggan.
Pasalnya, sepatu dengan brand merek luar negeri tersebut sifatnya random. Salah satu penjual sepatu thrift asal Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Defa Lusfandra mengaku tidak bisa menebak jenis sepatu apa saja yang ia dapat ketika barang yang ia order dari Medan datang. Sebab, hampir semua sepatu bekas sudah bercampur dengan berbagai merek, genre, dan tipe.
’’Dari agency di Medan sana memang sudah tercampur. Ketika saya order satu bal (100 pcs) sepatu bekas, yang tertera komposisinya komposisinya hanya 30 persen jenis sneakers collabs, 40 persen casual, dan sisanya running,’’ ujarnya. Dan ketika barang datang, Defa hanya menyortir harga berdasarkan kualitas, tipe, dan tingkat keasliannya. Ia lantas mencontohkan jenis Air Jordan yang sedang viral dan digemari kaum milenial. Ia tak segan membanderol senilai Rp 400 ribu ke atas. Apalagi jika jenisnya collabs atau gabungan merk, seperti Nike x Travis Scott, atau Nike x Off White.
’’Di satu bal, pasti ada collabs-nya sekitar 10 sampai 20 pieces. Karena banyak yang mengincar, harganya juga lebih mahal dari jenis lainnya,’’ tambahnya. Tidak hanya itu, jenis sepatu vintage kini juga sedang hypening dan dicari banyak kolektor. Khususnya yang produksinya di atas tahun 1980-an. Tak jarang generasi dewasa juga menyukai untuk sekedar koleksi atau dipakai untuk aktivitas sehari-hari.
’’Sama seperti yang model bling-bling dan collabs, Vintage juga harganya sedikit mahal. Sedangkan yang jenis sport atau running, kisaran harganya cuman Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu,’’ tambah pria asal Dau, Malang ini.
Nah, dengan tawaran varian lebih banyak, biasanya pembelinya galau saat membeli. Sebab, mereka harus bisa pandai memilih sepatu mana yang harus ia beli. Untuk itu, Defa biasa memandu para pembeli dengan kesesuaian kepribadian pelanggan. Termasuk menyesuaikan merek, bujet, negara pembuatan sepatu, hingga ukuran yang pas dengan kaki pelanggannya.
’’Misalnya yang beli adalah kaum remaja, bisa pakai yang casual. Atau kalau untuk lokal, bisa pakai yang collabs atau bling-bling. Negara pembuat sepatu juga kadang jadi pertimbangan. Justru yang made in Indonesia yang paling berkualitas, disusul made in India, Vietnam, dan China. Kalau yang beli secara online, kami juga akan cek keaslian dan ukuran berdasarkan keterangan di insole sepatu,’’ tegasnya.
Defa sendiri terhitung baru tiga bulan menjalankan bisnis thrift sepatu ini. Meski newbie, namun ia sudah beberapa kali mengimpor sepatu bekas lantaran banyaknya permintaan. Dalam sekali order, ia bisa merogoh kocek hingga Rp 17-18 juta untuk satu bal sepatu. Dari situ, ia bisa mendapat untung penjualan hingga 30 persen dari modal. Ia juga menjamin kualitas sepatu bekasnya masih mumpuni. Sebab, sudah ada agency yang mengatur proses impornya. Sehingga ketika barang datang, sepatu sudah siap jual.
’’Sudah bersih dan di-treatment. Kualitasnya juga tidak jauh dari yang baru, mungkin hanya dilap sedikit dan diberi pomade agar lebih kinclong,’’ tandasnya. Bapak dua anak ini juga mengaku bisnis thrift memang belum sepenuhnya aman, alias masih dalam pengawasan atau berstatus larangan terbatas (lartas). Meski demikian, ia mengaku tak khawatir lantaran proses transaksi yang ia jalankan legal, mulai dari order hingga penjualan.
’’Surat-surat penjualan dan pembelian dari agency sudah ada semua. Termasuk surat jalan kendaraan dari Medan ke sini (Mojokerto, Red) juga dipenuhi,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah