Tidak semua akuarium dihias dengan tanaman hidup. Banyak komponen hiasan akuarium berbahan sintetis dijual dipasaran. Terutama tanaman tiruan berbahan plastik. Itu memudahkan mereka yang ingin akuariumnya tampak cantik namun hanya dengan tinggal pindah dan comot sana sini. Konsep aquascape justru sebaliknya. Sejumlah komponen utama, layaknyan tanaman air, merupakan vegetasi asli yang ditanam di dalam media akuarium.
’’Jadi kita memang membuat ekosistem di dalam akuarium. Yang semirip mungkin dengan aslinya. Seperti di sungai dan rawa, untuk yang air tawar, dan seperti di laut buat yang air asin,’’ ujar Rachman Guswardi, salah seorang pengrajin aquascape di Prajurit Kulon Gang 1, Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Menurutnya, hobi akuaskap terbilang susah-susah gampang.
Sebab, selain perawatannya ada sejumlah komponen akuaskape yang mesti diperhatikan. Yakni tanaman hidup, ikan, akar, media tanam atau pasir, hingga filter dan lampu. Terlebih, aquscape menuntut kita untuk berkreasi lantaran hobi satu ini dilakukan secara custom design.
’’Kalau buat pemula sih biasanya yang tema bonsai atau air terjun yang pakai filter itu,’’ kata pria 28 tahun. Owner HR Aquatic Mojokerto itu menyebut, pemilihan tanaman air jadi faktor vital untuk mempercantik ekosistem akuarium. Menurutnya ada sejumlah tanaman air yang populer di kalangan aquascaper, yakni tanaman jenis stem plant. Mulai dari jenis vallisneria, bucephalandra, hingga anubias panda.
’’Ada juga ludwigia palustris sama rotala. Sebenarnya tanaman-tanaman ini habitat aslinya ya di sungai dan rawa. Harganya juga bervariatif, mulai dari Rp 5 ribu sampai jutaan rupiah,’’ terang ayah satu anak itu. Selanjutnya, keindahan akuaskap terletak pada kayu atau akar yang digunakan.
Biasanya, kayu akan dirangkai atau dilem dengan bebatuan agar tampak estetis dan kokoh di tengah akuarium. Ada beberapa jenis kayu yang bisa digunakan. Mulai dari akar jati hingga rasamala. Terlebih jenis kayu akat akar itu berbentuk unik dengan cabang-cabangnya.
’’Umumnya pakai rasamala. Pokoknya jenis kayu yang tidak lapuk saat kena air. Terus diserut biar bisa dibuat medianya lumut,’’ ungkap alumnus Juruan Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga (Unair) itu.
Selain itu a ada dua komponen lain yang tampak sepele namun berperan vital. Yakni filter dan lampu. Sebab, keduanya menunjang karya aquascaper dari sisi visual. Filter mampu menyaring kotoran ikan maupun tanaman hingga kejernihan air terus terjaga.
Sedangkan lampu, bisa mampu mempertajam keindahan warna masing-masing tanaaman air dan ikan. ’’Biasanya pakai filter canister. Di situ ada rumah bakterinya yang bikin air tetap jernih. Kalau lampu, pakai LED yang RGB biar warnanya makin tajam,’’ sebutnya.
Dikatakannya, para aquascaper di Mojokerto memilih merancang akuaskap ekosistem air tawar. Sebab, ada sejumlah faktor yang membuat aquascaper Mojokerto tidak ’’bermain’’ akuaskap air asin. Terlebih harga air asin yang didatangkan saat ganti air yang relatif mahal.
Hingga komponen karang hidup dan tumbuhan lautnya yang cukup merogoh kocek. ’’Kalau air asin, filternya juga harus lebih besar. Ukurannya bisa 1:1. Soalnya rumah bakterinya juga harus lebih besar,’’ tegasnya. Sebab, kebersihan akuaskap jadi poin penting untuk tetap konsisten menyajikan keindahan alami.
Yang dianggap bisa memicu rasa tenang hingga kepuasaan tersendiri bagi aquascaper. Terlebih, arus hingga gemercik air yang ditimbulkan filter semakin membuat akuaskap tampak alami. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah