Di Dusun Jatisumber, tradisi dan budaya khas masyarakat Jawa itu digelar setiap menjelang bulan ramadan. Gelaran itu tak lepas dengan berdoa bersama sekaligus tasyakuran yang digelar di Punden Jatisumber yang berada di belakang Masjid Baitul Muttaqin. Warga dari 15 RT se-Dusun Jatisumber berbondong-bondong membawa jajan pasar, hasil bumi, hingga tumpeng. Ruwat dusun ini digelar dua hari lamanya sejak 16-17 maret lalu.
’’Ruwat dusun ini jadi salah satu bentuk rasa syukur warga menyambut bulan Ramadan sekaligus agar dijauhkan dari hal-hal negatif. Dan, ini sudah jadi salah satu agenda rutin tahunan kami karena ruwat dusun ini warisan tradisi dari leluhur,’’ ujar Bagus Septyan Tri Pamungkas, Panitia Ruwah Dusun Jatisumber.
Dijelaskannya, ruwat dusun digelar beberapa pekan menjelang hari pertama puasa. Yang biasa dihitung menggunakan penanggalan jawa, yakni pada bulan Ruwah. Hari pertama diisi dengan sejumlah rangkaian pengajian. Mulai dari manakib hingga khataman Alquran. Itu semua digelar serempak di delapan musala yang ada di Dusun Jatisumber.
’’Pada hari pertama, satu hari penuh kita gelar pengajian karena tujuannya menyambut bulan Ramadan dan di sini mayoritas warganya muslim,’’ imbuhnya. Menyentuh tengah malam, tepatnya pukul 00.00, tokoh adat dusun berkumpul di punden. Mereka lantas mengelilingi dusun sembari membawa sesaji dan memanjatkan doa.
Tujuannya, agar warga dijauhkan dari segala hal buruk yang bisa mengganggu selama menjalankan ibadah puasa. ’’Istilahnya mageri dusun. Sesaji itu ditaruh di setiap sudut dusun yang dipercaya bisa menangkal energi buruk agar tidak masuk dusun,’’ ungkapnya.
Pagi harinya, warga berbondong-bondong menuju Punden Jatisumber untuk doa bersama dan tasyakuran. Tak lupa warga membawa jajan pasar, hasil bumi, tumpeng untuk dimakan bersama usai dibacakan doa hingga ubo rampe. ’’Dari 15 RT yang ada itu berdoa secara giliran di punden. Karena tempat yang terbatas dan masih pandemi,’’ urainya.
Memasuki siang hari, salah satu rangkaian ritual itu rampung digelar. Macapat dan tayuban digelar pada malam hari kedua. ’’Itu maknanya, sebagai gambaran kegembiraan warga menyambut bulan suci ramadan (tahun) ini,’’ tambahnya.
Bagus mengatakan, sejak pandemi Covid-19 mewabah tiga tahun lalu, ada yang berbeda dari gelaran ruwat dusun ini.
Ruwatan tidak disertai kirab keliling dusun lantaran dikhawatirkan memicu kerumunan dan penularan korona. Apalagi saat penghujung acaranya warga dipersilahkan memperebutkan gunungan yang dikirab keliling dusun. ’’Terakhir ada kirab ya 2019 itu. Walaupun akhir-akhir ini kita gelar secara sederhana tanpa kirab, itu tetap tidak mengurangi maknanya,’’ tegasnya. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah