MENJELANG bulan Ramadan, rasanya kurang apabila tidak dilengkapi dengan pelaksanaan tradisi tahunan. Tak terkecuali warga di Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Masyarakat di daerah tersebut punya punya cara tersendiri dalam menyambut bulan suci umat Islam itu.
Seperti yang diungkapkan Lurah Blooto Suluh Setiadji. Dia menuturkan, tiap satu tahun sekali warga Kelurahan Blooto rutin melakukan tradisi turun-temurun untuk menyambut bulan puasa. Dua minggu sebelum puasa, masyarakat kerap melakukan tradisi nyadran. Tradisi itu diawali dengan kirab Tumpeng Ageng. ’’Tumpeng setinggi 1,5 meter dan berat 80 kilogram itu diangkat oleh 39 warga untuk diarak keliling Kelurahan Blooto. Biasanya pasti ada iring-iringan kesenian Reog Ponorogo atau barongan,’’ ujarnya. Adapun, tradisi ini sudah dilakukan pada Kamis lalu (17/3).
Lalu, Suluh melanjutkan seperti tahun-tahun sebelumnya, rute kirab tumpeng itu tak pernah berubah. Warga mulai mengarak tumpeng tersebut dari Jalan Raya Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto menuju Makam Mbah Jimat. Mbah Jimat adalah sesepuh yang dikenal sebagai tokoh mbabat desa, Lingkungan Kemasan. ’’Karena memang itu kan tradisi turun-temurun, tujuannya mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sekaligus, kirim doa ke sesepuh yang paling dihormati di lingkungan tersebut,’’ ulasnya.
Setelah diarak ke makam, para warga akan berdoa bersama, lalu memperebutkan tumpeng, jajanan tradisional yang ada dalam tumpeng tersebut.
Dikatakannya, tradisi kirab tumpeng itu hanya digelar oleh warga lingkungan Kemasan saja. Sedangkan untuk lingkungan Blooto dan Trenggilis, biasanya menyambut bulan suci dengan cara sedehana. Yakni, dengan tradisi ziarah sekaligus bersih-bersih makam. ’’Tidak ada kirab, kalau yang di dua lingkungan ini. Jadi, lebih bersih-bersih makam sesepuh. Lalu, berdoa bersama,’’ ulasnya.
Suluh menuturkan, sebelum pandemi, biasanya Lingkungan Blooto menggelar pertunjukan wayang sebelum memasuki bulan puasa. Tetapi, akibat pandemi yang tak kunjung berkesudahan, hingga kini pertunjukan wayang masih belum bisa dilaksanakan. ’’Saya tidak bolehkan memang. Takutnya memicu kerumunan. Tapi, memang sebenarnya dari dulu pertunjukan wayang sebelum bulan Ramadan itu sudah tradisi nenek moyang,’’ bebernya.
Rangkaian tradisi menyambut bulan suci ini tak berhenti disitu saja. Suluh mengaku, seminggu jelang puasa, biasanya ketiga lingkungan di Kelurahan Blooto ini mengadakan tradisi megeungan. Itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Sekaligus mengirim doa kepada arwah saudara mereka. ’’Minggu ini sudah dilaksanakan, warga datang ke masjid bawa makanan. Nanti sampai di masjid doa bersama lalu makanannya ditukar. Ini juga sebagai bentuk jalinan silaturahmi antar tetangga. Tinggal lingkungan Trenggilis saja sih yang belum, besok (hari ini) pelaksanaannya,’’ ulasnya.
Tradisi lain yang hanya bisa ditemukan di Kelurahan Blooto, yakni kue serabi. Setahun sekali sebelum memasuki bulan Ramadan, berbagai tradisi yang dilakukan warga ini tak lepas dari hidangan kue tersebut. ’’Termasuk kirab kemarin. Sama megengan ini pasti warga sisipkan pakai kue serabi dan bentuknya harus bulat. Kalau warga sini percaya, kue serabi itu maknanya kebulatan tekad warga Kelurahan Blooto. Itu sudah dilakukan dari dulu memang,’’ paparnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah