Dinkes Kabupaten Mojokerto Gencarkan Tracing TBC CKG di Ratusan Titik

Khudori Aliandu • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 08:26 WIB
SKRINING: Narapidana Lapas Kelas II-B Mojokerto saat menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi penyakit TBC, Rabu (5/8). (Adi JPRM)
SKRINING: Narapidana Lapas Kelas II-B Mojokerto saat menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi penyakit TBC, Rabu (5/8). (Adi JPRM)

KABUPATEN - Merespons temuan 1.098 kasus positif tuberkulosis (TBC) dan 8.300 warga terduga TBC di Kabupaten Mojokerto pada 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mengambil langkah nyata. Sebagai bentuk penanganan secara utuh di tengah masyarakat, dinkes akan menggencarkan program tracing TBC cegah dan kumpulkan gejala (CKG) di 122 titik lokasi dengan sasaran pemeriksaan mencapai 100 orang per titik.

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati menegaskan, fenomena tingginya angka penemuan kasus saat ini tidak perlu dipandang secara pesimistis.

Tren peningkatan data TBC itu justru menjadi indikator positif meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. ’’Sebagian masyarakat kita masih menganggap TBC sebagai penyakit orang miskin atau bahkan aib yang harus disembunyikan. Padahal, tren peningkatan angka TBC sebenarnya menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat yang mulai bersedia mengikuti skrining dan tracing kontak,’’ ungkapnya, kemarin (3/9).

Menurutnya, angka kasus yang terlihat rendah di suatu daerah sama sekali bukan jaminan bahwa wilayah tersebut sudah terbebas dari ancaman penularan. ’’Artinya kalau angka TBC rendah, itu bukan jaminan suatu daerah aman TBC. Diperlukan kajian mendalam seberapa banyak warga yang sudah diskrining di area tersebut. Karena itu, melalui tracing TBC CKG di 122 titik tahun ini dengan target 100 orang per lokasi, kami ingin menjangkau dan menangani potensi penularan secara utuh,’’ jelasnya.

Dinkes menekankan pentingnya mengikis stigma negatif di masyarakat. TBC merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang dipicu oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan murni masalah kesehatan medis. Bahkan, Dyan menegaskan TBC dapat disembuhkan.

’’Jadi, TBC dipastikan bisa disembuhkan secara total dengan intervensi pengobatan yang benar dan konsisten. Termasuk tidak terlambat dalam memulai proses terapi obat (OAT),’’ jelasnya.

Disebutkannya penyakit ini juga bukan aib sosial. Menurutnya penyebaran TBC dapat menimpa siapa saja tanpa memandang status sosial-ekonomi. ’’Penanganan dini justru memutus mata rantai penularan di lingkungan keluarga dan tetangga,’’ tegasnya.

Tak urung, seluruh jejaring fasilitas kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Mojokerto telah disiagakan untuk melayani skrining spesimen hingga pendampingan minum obat secara menyeluruh.

’’Masyarakat yang mengalami gejala batuk terus-menerus lebih dari dua minggu, demam, keringat dingin pada malam hari, atau penurunan berat badan diimbau untuk segera memanfaatkan pos skrining CKG terdekat maupun datang langsung ke fasilitas pelayanan kesehatan tanpa ragu,’’ pungkasnya. (ori/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
tbc mojokerto tbc ckg skrining tbc