Ratusan Anak dan Pelajar di Kabupaten Mojokerto Terpapar HIV

Khudori Aliandu • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 05:52 WIB
MEMPRIHATINKAN: Tingginya kasus HIV di Kabupaten Mojokerto yang salah satu penyebarannya diduga melalui prostitusi terselubung.
MEMPRIHATINKAN: Tingginya kasus HIV di Kabupaten Mojokerto yang salah satu penyebarannya diduga melalui prostitusi terselubung.

-        Usia 12 Tahun Diduga Tertular dari Faktor Transmisi Vertikal

-        Dinkes Sebut Penyebaran di Kabupaten Kian Memprihatinkan 

KABUPATEN - Penyebaran kasus human immunodeficiency virus (HIV) di Kabupaten Mojokerto kondisinya kini kian mengkhawatirkan. Penyakit menular tersebut tidak hanya menyerang kelompok usia dewasa, namun dari total 1.624 kasus, setidaknya 139 orang terdeteksi dialami usia anak-anak hingga pelajar. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati mengungkapkan keprihatinannya terkait tren kasus HIV yang menyentuh usia remaja dan kelompok produktif tersebut.  Berdasarkan data terbaru dari dinas kesehatan (dinkes) hingga Juni 2026, dari total 1.624 kasus tercatat sebanyak 139 kasus anak atau orang dengan HIV (ADHIV) yang hidup dan mengetahui statusnya. 

’’Fenomena penularan HIV saat ini menjadi perhatian serius kita bersama. Kelompok usia muda dan usia sekolah menunjukkan angka yang cukup dominan. Hal ini menuntut penguatan edukasi, pencegahan, serta pendampingan yang intensif agar generasi muda kita terlindungi,’’ ungkapnya, Minggu (26/7). Data dinkes menunjukkan kelompok usia 19-24 tahun menjadi penyumbang kasus HIV sebanyak 103 kasus, diikuti kelompok anak-anak di bawah 12 tahun yang umumnya terpapar dari faktor transmisi vertikal (ibu ke anak) dengan jumlah 25 kasus. 

Lalu, kalangan remaja usia 16-18 tahun (setingkat SMA/SMK) dengan 8 kasus dan usia 13-15 tercatat ada 3 kasus. ’’Dari jumlah 139 kasus, sebanyak 89 penderita di antaranya aktif menjalani pengobatan antiretroviral therapy (ART),’’ imbuhnya. Dyan Anggrahini menegaskan pentingnya membangun kolaborasi lintas sektor. Termasuk bersama pihak sekolah, pemangku kebijakan, serta orang tua dalam memberikan pemahaman mengenai perilaku hidup sehat dan bahaya pergaulan bebas.

Dinkes, lanjutnya, akan terus memperluas jangkauan skrining awal di puskesmas, rumah sakit, hingga fasilitas pelayanan kesehatan lintas wilayah. ’’Selain itu, upaya penjangkauan dan dorongan kepatuhan minum obat bagi pasien on-ART juga terus ditingkatkan agar daya tahan tubuh penderita tetap terjaga. Termasuk meminimalkan risiko penularan lebih lanjut,’’ paparnya. 

Sebelumnya penertiban tempat prostitusi terselubung yang digelar satpol PP di wilayah Kabupaten Mojokerto turut mengungkap fakta baru. Tiga wanita tunasusila yang dinyatakan positif HIV/AIDS saat terjaring razia, mengaku menerima tamu hingga 30 pria hidung belang per hari. Dengan mayoritas menyasar kelompok usia produktif. 

Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terkait masifnya potensi penyebaran penyakit menular, khususnya HIV/AIDS. Mengingat, tingginya aktivitas di lokasi-lokasi terselubung tersebut. ’’Praktik terselubung seperti ini sangat berisiko. Selain tidak ada intervensi edukasi secara langsung, kita juga tidak bisa melakukan pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala kepada mereka,’’ tandas Dyan. 

Tiga wanita tunasusila positif HIV yang baru saja terjaring tersebut dipastikan adalah pasien atau kasus baru. Berdasarkan penelusuran sistem data kesehatan, identitas ketiganya diketahui belum terdaftar dalam basis data penderita HIV yang selama ini berada dalam pemantauan rutin. 

Hal ini mengindikasikan bahwa ketiganya kemungkinan besar tidak menyadari kondisi kesehatan dan terus beraktivitas tanpa menggunakan pengaman. Sehingga potensi penularan virus ke pelanggan lain sangat tinggi. (ori/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
anak terpapar kasus hiv aids dinkes kabupaten mojokerto hiv aids