JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hantavirus adalah virus langka yang menular dari hewan pengerat, khususnya tikus, kepada manusia. Meski kasusnya jarang, ancaman kesehatan yang ditimbulkan cukup serius dan perlu diwaspadai.
Virus ini pertama kali mencuat saat Perang Korea, ketika ribuan tentara mengalami penyakit misterius berupa demam dan gangguan ginjal. Penelitian kemudian menemukan bahwa sumber penyakit berasal dari tikus di sekitar Sungai Hantan, Korea Selatan. Dari sinilah nama “Hantavirus” muncul.
Baca Juga: Terbentuknya Kabupaten Mojokerto, Dirikan Pendapa, Alun-Alun, hingga Masjid Agung
Sejak saat itu, hantavirus diketahui terbagi menjadi dua kelompok besar: dunia lama (Asia dan Eropa) serta dunia baru (Amerika). Hantavirus dunia lama biasanya menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS).
Sementara itu, hantavirus dunia baru lebih sering menimbulkan sindrom paru (HPS). Perbedaan ini membuat hantavirus menjadi ancaman global dengan variasi gejala yang berbeda di tiap wilayah.
Gejala awal infeksi hantavirus mirip flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Banyak pasien tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi hingga gejala berkembang menjadi lebih parah.
Dalam kasus yang lebih serius, gejala dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat, batuk, sesak napas, hingga gagal paru. Pada hantavirus dunia lama, komplikasi lebih banyak menyerang ginjal.
Baca Juga: Samsung Galaxy S27 Bocor! Desain Futuristik dan Kamera AI Jadi Sorotan
Penularan hantavirus tidak terjadi dari manusia ke manusia. Virus ini menular melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Risiko penularan meningkat di daerah dengan populasi tikus tinggi dan lingkungan yang kurang bersih. Oleh karena itu, kebersihan lingkungan menjadi faktor penting dalam pencegahan.
Para ahli kesehatan menekankan pentingnya menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar. Menutup celah rumah dan menyimpan makanan dengan aman adalah langkah sederhana yang efektif.
Hingga kini, belum ada vaksin khusus untuk hantavirus. Pengobatan lebih bersifat suportif, yaitu membantu pasien bertahan dari gejala berat hingga tubuh mampu melawan infeksi.
Kasus hantavirus pernah mencuri perhatian dunia ketika muncul laporan di Amerika Serikat dan Tiongkok. Meski jumlah kasus relatif kecil, tingkat kematian yang tinggi membuat virus ini tetap menjadi ancaman.
Di Indonesia, laporan kasus hantavirus masih sangat jarang. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat tikus banyak ditemukan di lingkungan perkotaan maupun pedesaan.
Pemerintah dan tenaga medis diimbau meningkatkan sosialisasi mengenai bahaya hantavirus. Edukasi masyarakat tentang cara mencegah kontak dengan tikus menjadi kunci utama.
Selain itu, penelitian lebih lanjut mengenai hantavirus di Asia Tenggara perlu dilakukan. Dengan pemahaman yang lebih baik, strategi pencegahan dan penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lokal.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, ancaman hantavirus diharapkan dapat ditekan. Menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus adalah langkah sederhana namun efektif.
FERDI
Editor : Imron Arlado