’’Menu siomay dicurigai bumbu kacangnya tidak layak konsumsi,’’
Dyan Anggrahini Sulistyowati
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto
’’Ada beberapa siswa yang telanjur memakan lalu mengalami diare. Sore harinya, enam siswa kelas X dan tiga siswa kelas XII juga mengeluhkan gejala yang sama setelah mengonsumsi bumbu kacang dari siomay tersebut,’’
Arief Setjo Wahjudi
Kepala SMK PGRI Mojosari
- Dinkes Telisik Jumlah Korban dan Penyebab
- Juga Kirim Sampel Menu ke Surabaya
MOJOSARI - Insiden dugaan kasus keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terulang. Sejumlah siswa di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Randubango, Kamis (9/4).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati membenarkan adanya indikasi keracunan makanan tersebut. Meskipun pihaknya kini masih menunggu penyebab pastinya dari hasil uji laboratorium sampel makanan yang dikirimkan ke Surabaya. ’’Ada indikasi keracunan. Tetapi, kepastiannya kami menunggu hasil laboratorium uji makanan sampel yang tadi pagi (kemarin, Red) kami bawa ke Surabaya,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin (10/4).
Dyan menuturkan, berdasarkan laporan awal yang diterima, para siswa saat itu menerima menu berupa kentang kukus, telur rebus, siomay ayam, bumbu kacang, tahu kukus, kubis atau kol rebus, dan semangka. Bumbu kacang yang diduga bermasalah itu dikirim ke lima lembaga pendidikan sebagai penerima manfaat. ’’Menu siomay dicurigai bumbu kacangnya tidak layak konsumsi,’’ imbuhnya.
Dia menambahkan, dalam laporan yang diterima, pihaknya turut mendapati sejumlah siswa yang menyantap menu tersebut mengalami gejala dugaan keracunan dan mengalami diare. ’’Laporan yang saya terima, siswa mengalami diare, tidak muntah. Karena kemarin ketika kami minta muntahan untuk bahan sampel uji laboratorium, tidak ada bahan tersebut,’’ urainya.
Meski demikian, hingga kini Dyan belum dapat menyebut jumlah siswa yang terindikasi mengalami dugaan keracunan dalam kasus ini. Namun, pihaknya menyatakan, saat ini seluruh siswa yang terdampak berada dalam kondisi stabil dan terus dimonitor oleh petugas kesehatan.
Pemeriksaan lanjutan masih berlangsung untuk memastikan sumber kontaminasi serta mencegah kasus serupa terulang. ’’Terkait jumlah yang terdampak kami sedang melakukan penelusuran. Karena alhamdulillah semua rawat jalan dan ada yang dirawat di rumah masing-masing dalam pantauan kami,’’ tuturnya.
Sementara itu, Kepala SMK PGRI Mojosari Arief Setjo Wahjudi membenarkan ada beberapa siswa yang mengeluhkan diare usai menyantap menu MBG. Diakuinya, sekolah sempat mendapati bumbu kacang yang dikirimkan SPPG di bawah nauangan Yayasan Santtana Andalan Nglonggongan tersebut mengalami perubahan tekstur dan aroma.
Berdasarkan data kronologis yang dihimpun sekolah, siswa SMA dan SMK PGRI Mojosari mulai mengonsumsi paket makanan tersebut sekitar pukul 09.00 WIB. ’’Ada beberapa siswa yang telanjur memakan lalu mengalami diare. Sore harinya, enam siswa kelas X dan tiga siswa kelas XII juga mengeluhkan gejala yang sama setelah mengonsumsi bumbu kacang dari siomay tersebut,’’ paparnya.
Usai mengalami gejala diare, Arief menerangkan, siswa kemudian berobat ke fasyankes terdekat. Pihaknya juga sudah melaporkan dugaan keracunan tersebut ke SPPG terkait. ’’Untuk hari ini (kemarin, Red) tidak ada pembagian MBG. Informasinya diliburkan dulu, tapi nggak tahu sampai kapan,’’ jelasnya.
Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Mojokerto, distribusi MBG ke sejumlah sekolah sudah dilakukan sejak pagi. Sedikitnya, ada lima sekolah yang menjadi penerima manfaat menu dari SPPG yang berada di Desa Randubango, Kecamatan Mojosari, ini. Di antaranya SMA dan SMK PGRI Mojosari, TK Kartika, SDN Randubango, serta MI Mi’rojul Ulum. (oce/fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah