Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Balita Alami Gizi Buruk Disertai Penyakit Langka Ditemukan di Mojokerto

Khudori Aliandu • Jumat, 10 April 2026 | 06:17 WIB
ilustrasi stunting
ilustrasi stunting

 

 

 

’’Rabu (8/3) ketika kita konsultasikan dengan DSA RSUD Dr. Soetomo, belum diketahui juga diagnosanya, hingga akhirnya oleh RSUD Dr. Soetomo pemeriksaan dilakukan di Korea,’’

Dyan Anggraini Sulistyowati

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto

 

-          Kulit Mengelupas, Berat Badan Jauh di Bawah Normal

-          Sampel Darah Diperiksakan hingga ke Korea 

KABUPATEN - Puluhan balita di bawah usia lima tahun di Kabupaten Mojokerto alami gizi buruk. Bahkan, dari temuan dinas kesehatan (dinkes), satu di antaranya diketahui memiliki penyakit penyerta langka yang belum bisa didiagnosa secara medis hingga akhirnya diharuskan mengirimkan sampel darah ke Korea. 

Pasien balita yang tengah jadi perhatian serius pemerintah daerah (pemda) ini berasal dari wilayah Kecamatan Dlanggu. Kondisi itu juga dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggraini Sulistyowati. 

Dia mengungkapkan, pasien balita yang mengalami gizi buruk dengan penyakit penyerta langka ini tengah dalam penanganan intensif. ’’Rabu (8/4) ketika kita konsultasikan dengan DSA RSUD Dr. Soetomo, belum diketahui juga diagnosanya, hingga akhirnya oleh RSUD Dr. Soetomo pemeriksaan dilakukan di Korea,’’ ungkap Dyan, kemarin (9/4). 

Menurutnya, sampel darah pasien akan dikirim ke Korea untuk mengungkap panyakit apa yang diderita pasien yang baru berusia 21 bulan ini. Sambil berproses, dinkes sudah melakukan pendampingan dan penanganan medis secara terukur. ’’Awalnya dikira itu hanya gizi buruk biasa saja. Oh, ini gizi buruk makanya kulitnya mengelupas, berat badan jauh di bawah normal. Ternyata waktu diperiksa lebih lanjut oleh spesialis anak, tidak sebatas itu,’’ terangnya. 

Pun demikian saat awalnya dikira mengalami alergi susu, terang Dyan, ternyata saat diperiksa lebih lanjut juga tidak sebatas itu. Bahkan, untuk mendiagnosa sudah tiga kali dibawa ke RSUD Dr. Soetomo. ’’Kalau Dr. Soetomo saja tidak mengerti, berarti ini tidak pernah ada kejadian sebelumnya, ini kasus langka dan baru,’’ urainya. 

Meski pengobatannya tercover BPJS kesehatan, keluarga pasien ini perlu uluran tangan dari berbagai pihak lantaran tidak semuanya ditanggung. Keterbatasan anggaran di dinas kesehatan juga tidak mampu mengcover kebutuhan pasien secara penuh. Misalkan, kaitannya kebutuhan susu yang per bulannya membutuhkan Rp 4 juta. 

’’Butuh dukungan pihak luar. Satu, ya karena keterbatasan anggaran dan kita juga dibatasi aturan dalam setiap penyaluran bantuan, tetapi kasus ini tidak bisa dibiarkan begitu saja,’’ jelas Dyan. 

Dia menegaskan, hingga kini persoalan gizi buruk pada balita di Kabupaten Mojokerto memang masih banyak. Sesuai data dinkes, tercatat ada puluhan kasus yang tengah ditangani dinkes. Termasuk balita stunting dan balita gizi kurang. Hanya saja untuk temua kasus ini berbeda dari biasanya. 

’’Khusus balita yang mengalami gizi buruk sendiri ada 98 kasus dan alhamdulillah sebagian besar bisa tertangani melalui intervensi tepat karena tanpa penyakit penyerta, nah untuk satu kasus ini yang belum terdiagnosa secara jelas, kita butuh dukungan,’’ pungkasnya. (ori/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#bayi stunting #penyakit langka #stunting mojokerto #dinas kesehatan kabupaten mojokerto