RSUD Prof dr Soekandar menyediakan ruangan khusus di lantai dua untuk merawat pasien terdampak MBG. Ruang yang semula untuk transit pasien dari instalasi gawat darurat (IGD) dijadikan sebagai kamar rawat inap bagi puluhan orang yang diduga keracunan MBG. ’’Yang masih rawat inap penangannya untuk memperbaiki saluran pencernaan, dehidrasinya, dan mengatasi panas badan,’’ ungkap dr Agy Fristiawan koordinator IGD RSUD Prof dr Soekandar kemarin.
Dari total 65 pasien terdampak MBG yang ditangani RSUD, sebagian besar telah keluar rumah sakit (KRS). Hingga Selasa (13/1), jumlah pasien yang masih menjalani rawat inap tersisa 26 orang. ’’Baik pasien dewasa maupun anak-anak,’’ tandasnya.
Fristiawan menyebut, seluruh pasien tidak ada tanda-tanda penurunan kondisi. Berdasarkan hasil observasi tim medis, sebanyak 16 pasien diperkirakan diperbolehkan kembali pulang hari ini. ’’Semua pasien yang terdampak MBG kondisinya baik, aman, teratasi semua,’’ sebutnya.
Selain itu, puluhan pasien terdampak MBG juga masih menjalani perawatan di RS Mawaddah Medika. Di antaranya 12 orang masih rawat inap, dan 13 lainnya berstatus rawat jalan. ’’Rawat jalan cuma diperiksa terus dikasih obat,’’ imbuh Kabid Pelayanan Medis RS Mawaddah dr Miftahul Khoiriyah, Selasa (13/1).
Rumah sakit yang berada di Jalan Raya Ngijingan, Kecamatan Ngoro ini menerima pasien terduga keracunan MBG sejak Sabtu (10/1). Jumlah pasien terus bertambah hingga Senin (12/1).
Menurutnya, mayoritas pasien datang secara mandiri dengan gejala rata-rata gangguan pada saluran pencernaan. ’’Banyak juga yang ternyata gejala ringan, jadi cukup dengan rawat jalan,’’ pungkas dia. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah