Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Fogging di Kabupaten Mojokerto Diarahkan Berbayar Rp 800 Ribu

Khudori Aliandu • Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:55 WIB
MENGKHAWATIRKAN: Petugas fogging melakukan pengasapan di Dusun Sidokerto, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, menyusul maraknya kasus DBD di desa setempat, kemarin (7/1).
MENGKHAWATIRKAN: Petugas fogging melakukan pengasapan di Dusun Sidokerto, Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, menyusul maraknya kasus DBD di desa setempat, kemarin (7/1).

- Mesin Fogger Milik Puskesmas Rusak

- Warga Diminta Sewa Milik Swasta

KABUPATEN – Temuan dugaan kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Mojokerto belakangan perlahan meluas. Bahkan, di Dusun Kedungpalang, Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, hingga kini belum ada penanganan serius. Untuk sekadar melakukan fogging saja, warga justru diarahkan menyewa kepada pihak swasta dengan biaya Rp 800 ribu. 

Bidan Desa Lakardowo Indah membenarkan jika di Dusun Kedungpalang tengah muncul kasus DBD. Dari hasil koordinasi, pasiennya diketahui mengalami penurunan trombosit yang mengarah pada serangan DBD. ’’Sebelumnya sempat dirawat beberapa hari di Puskesmas Jetis, trombosit turun terus, tidak ada perkembangan baru dirujuk ke rumah sakit,’’ ungkapnya, kemarin (9/1).

Namun, pihaknya mengaku tidak mengetahui pasti berapa turunnya rombosit tersebut. Yang pasti, lanjut dia, setelah mendapat penanganan medis, pasien kini sudah dipulangkan, dan telah beraktivitas kerja. ’’Jadi, memang ada dua, satu suspek DB, yang satu DB, trombositnya turun,’’ tegasnya. 

Meski demikian, hingga kini belum ada penanganan serius atas munculnya kasus DBD tersebut. Bahkan, untuk sekadar fogging, warga diarahkan untuk menyewa milik swasta dengan biaya Rp 800 ribu lantaran mesin fogger milik puskesmas disebut dalam kondisi rusak.

’’Sebenarnya sudah saya berkoordinasi dengan Pak Polo (kepala dusun). Ada alat plus tenaga empat orang, itu berbayar Rp 800 ribu, obatnya disediakan puskesmas. Tapi, sampai detik ini belum ada tindak lanjut karena desa tidak ada anggaran,’’ paparnya. 

Pemegang program DBD Puskesmas Jetis Agustis membenarkan jika mesin fogger puskesmas mengalami kerusakan. Sehingga sebagai langkah solusi, jika muncul kasus DBD, secara mandiri warga diarahkan menyewa milik swasta dan berbayar.

’’Saya pinjamkan alat ke (Puskesmas) Kupang juga rusak, ke Dawarblandong juga rusak. Jadi, kalau mau, ini ada orang profesional dan punya alat, biayanya Rp 800 ribu itu. Tetapi, untuk obat tetap dari puskesmas gratis,’’ jelasnya. Dengan keterbatasan peralatan tersebut menjadikan penanganan DBD di desa tersendat. ’’Solusinya memang ya itu, kalau pingin cepat ya pinjam itu tadi berbayar,’’ urianya. 

Kepala Puskesmas Jetis dr. Nurcahyati Akbar Kusuma Wardani menegaskan, puskesmas kini tengah melakukan koordinasi dengan desa untuk melakukan pendataan. Bahkan, kemarin pihaknya bersama tim turun langsung ke sejumlah rumah warga yang terindikasi terjangkit nyamuk aedes aegypti tersebut.

’’Prinsipnya, setiap ada kasus terindikasi DB, bidan desa melaporkan ke pemegang program DB di puskesmas. Tetapi, kita kan tidak bisa melaporkan hal itu tanpa ada hasil lab (laboratorium). Makanya, kami menunggu hasil lab dari keluarganya,’’ ungkapnya. 

Dia menegaskan, setiap melakukan penanganan penyakit, termasuk DBD, puskesmas tidak bisa berjalan sendiri. Melainkan dibutuhkan proaktif keluarga pasien untuk melangkapi administratif.  ’’Jadi, saat ini kami menunggu data dari keluarga dan desa terkait hasil laboratoriumnya sebagai bukti jika pasien itu benar-benar terjangkit DBD,’’ tandasnya.

Terkait mesin fogger milik puskesmas, pihaknya mengakui saat ini memang mengalami kerusakan. Di sisi lain, Kepala Puskesmas Dawarblandong dr. Deny Setiyawan membantah jika alat fogger milik pukesmas yang dinaunginya mengalami kerusakan. Bahkan, belakangan baru saja dimanfaatkan untuk pengasapan. ’’Ada alat fogging, bisa dipakai. Dua hari lalu dipakai fogging di Desa Pulorejo,’’ terangnya. (ori/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#fogging mojokerto #fogging dbd #fogging berbayar