Menurut Komnas PA, mandeknya MBG justru berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak, terutama bagi keluarga kurang mampu. Padahal, MBG kini bukan sekadar program bantuan, melainkan sudah menjadi hak setiap anak dalam memperoleh gizi seimbang demi tumbuh kembang mereka.
Komnas PA juga memandang penghentian program MBG justru dapat memperburuk kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dan dapat menghambat pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang jika tidak segera dibenahi.
’’Tumbuh kembang anak bisa terganggu, termasuk kesehatan gizinya. Beban pengeluaran rumah tangga juga ikut meningkat karena orang tua harus menyediakan makanan tambahan untuk anak-anak karena tidak lagi menerima MBG,’’ ungkap Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komnas PA Jatim Jaka Prima, kemarin (28/12).
Dia juga menyoroti metode penyaluran MBG yang meminta siswa atau wali murid mengambil paket makanan di sekolah berjalan kurang efektif. Jaka justru memberikan opsi kepada SPPG agar langsung mengantarkan ke rumah siswa sasaran penerima manfaat.
Penyaluran juga tidak harus berbentuk makanan jadi, tapi bisa berupa uang tunai agar dibelanjakan orang tua sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang siswa. ’’Karena kami melihat justru sia-sia menyalurkan paket MBG ke sekolah karena libur. Lebih efektif diganti dengan uang pengganti MBG yang dititipkan ke sekolah untuk diberikan kepada orang tua. Sehingga orang tua juga ikut memantau perkembangan gizi anaknya,’’ tandasnya. (far/ris)
Editor : Fendy Hermansyah