Jawa Pos Radar Mojokerto - Banyak individu beranggapan bahwa semua bentuk vitamin D itu serupa. Dalam bentuk kapsul, cair, atau tablet, biasanya langsung dianggap aman dan bermanfaat.
Namun, studi terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda, memilih jenis vitamin D yang tidak tepat dapat menyebabkan kadar vitamin dalam tubuh menurun.
Sebuah penelitian yang dilakukan secara bersama antara University of Surrey, John Innes Centre, dan Quadram Institute Bioscience menemukan bahwa masih banyak orang memiliki pemahaman yang keliru tentang suplemen vitamin D.
Tim peneliti menganalisis lebih dari 200 penelitian internasional yang dipublikasikan sejak tahun 1975. Setelah melalui proses penyaringan, hanya ada 11 penelitian yang dianggap layak untuk dianalisis secara mendalam dan hasilnya cukup mengejutkan.
Kesalahan lain yang umum adalah ketergantungan yang terlalu besar pada pil suplemen tanpa mempertimbangkan sumber alami yang ada di sekitar kita.
Sebenarnya, vitamin D bisa didapat melalui sinar matahari, ikan berlemak seperti salmon dan makarel, serta dari kuning telur dan jamur. Meskipun terdapat produk seperti susu, yogurt, dan sereal yang telah diperkaya dengan vitamin D, itu tetap tidak cukup jika pola makan yang dijalani tidak seimbang.
Suplemen bisa memberikan dukungan, tetapi itu bukanlah "solusi instan" yang utama. Tubuh kita masih memerlukan nutrisi alami untuk menjaga keseimbangan yang sehat.
Banyak orang membeli suplemen tanpa mengetahui dosis atau jenis yang tepat untuk mereka. Menurut para pakar, sebelum memulai konsumsi rutin, penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Dosis vitamin D untuk setiap individu dapat bervariasi, tergantung pada usia, berat badan, dan pola hidup.
Baca Juga: Sound Horeg, Antara Hiburan Rakyat dan Kontroversi Kebisingan
Bagi yang menjalani pola makan vegan atau tidak mengonsumsi produk hewani, tidak perlu khawatir! Kini, sudah ada vitamin D3 yang berasal dari lumut (lichen), sehingga tetap bisa menikmati manfaat D3 tanpa melanggar prinsip vegetarianisme
Hingga saat ini, para ilmuwan belum mengetahui dengan pasti mengapa D2 dapat mengurangi kadar D3. Namun, mereka sepakat bahwa untuk suplemen harian, D3 lebih dianjurkan dibandingkan D2, tentunya dengan saran dari tenaga medis.
Dengan cara ini, Anda dapat tetap sehat tanpa perlu khawatir akan efek samping dari kesalahan kecil dalam memilih suplemen.
Baca Juga: Kebijakan PPN 12 Persen dan Peluang Turun Menjadi 8 Persen, Begini Sikap Pemerintah
Oleh karena itu, sebelum membeli vitamin D di apotek atau e-commerce, periksa terlebih dahulu labelnya. Pastikan untuk tidak hanya mencari "D", tetapi pastikan itu adalah D3. Tubuh Anda tentunya akan berterima kasih pada akhirnya. Okta/Linda
Editor : Imron Arlado