JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Belakangan ini, kasus mengenai kepergian Raya yang disebabkan oleh penyakit cacingan akut menjadi perbincangan hangat.
Kasus ini kemudian berhasil mendapat banyak perhatian dari seluruh rakyat Indonesia yang memiliki rasa simpati dan empati.
Tersebarnya kasus kepergian Raya juga mampu memberikan kesadaran akan kesehatan untuk seluruh masyarakat, khususnya para generasi muda.
Hampir seluruh masyarakat mulai menyadari bahwa penyakit cacingan menunjukkan hal penting, yakni infeksi cacing usus bukanlah sekedar penyakit ringan yang menyebabkan gatal dan sakit perut saja. Melainkan suatu penyakit yang tampak ringan namun mampu merenggut nyawa seseorang.
Kasus seperti ini kerap kali memicu perhatian publik karena membuktikan secara nyata tentang konsekuensi dari pola hidup yang tidak teratur dan akses layanan yang belum memadai.
Cacingan sendiri merupakan infeksi yang disebabkan oleh cacing parasit yang hidup di saluran pencernaan manusia.
Beberapa faktor yang memicu berkembangnya cacing di tubuh seseorang adalah karena pola hidupnya yang tidak teratur, lingkungan yang kumuh, dan kurang memperhatikan kebersihan makanan.
Cacing-cacing ini akan terus berkembang biak dan bertelur yang beberapanya bisa keluar dari feses.
Baca Juga: 15 Cara Keren Hadapi Minggu pagi, Siap Taklukkan Senin gembira
Jika lingkungan tidak memadai dan sanitasi buruk, telur cacing yang keluar dari feses tersebut akan mencemari tanah, makanan, hingga air lalu menginfeksi orang lain.
Cacing-cacing tersebut memiliki 3 jenis utama yang kerap kali diperbincangkan, yakni cacing gelang atau ascaris lumbricoides.
Cacing ini biasanya hidup dan berkembang di usus halus manusia dan bisa berjumlah sangat banyak dengan panjang ukurannya sekitar 20-35 cm.
Selanjutnya adalah cacing cambuk atau trichuris trichiura. Cacing ini memiliki ukuran mirip cambuk dengan bagian depan tipis panjang dan bagian belakang lebih gemuk. Panjangnya sekitar 3-5 cm dan hidup di area usus besar manusia.
Yang terakhir adalah cacing tembang atau necator americanus yang juga disebut sebagai ancylostoma duodenale. Cacing tembang dikenal karena cara infeksinya yang berbeda dan lebih berbahaya.
Dengan ukurannya yang sangat kecil, yakni 1 cm, cacing tembang dapat menembus kulit, lalu melewati paru-paru hingga ke tenggorokan dan berakhir tinggal di usus halus.
Gejala cacingan umumnya ditandai dengan munculnya sakit perut, mual, diare, penurunan nafsu makan, dan gatal di area anus. Namun, gejala cacingan bisa ringan bahkan tidak terasa jika jumlah cacing sedikit.
Jika infeksi berlangsung lama dengan ukuran atau jumlah cacing yang besar, dampak serta gejalanya akan lebih serius. Seperti gangguan penyerapan nutrisi yang menyebabkan anak tumbuh kurang optimal.
Tak hanya itu, cacingan akut juga dapat menyebabkan kehilangan darah kronis dan membuat kesehatan ibu hamil terganggu serta peningkatan resiko pada janin.
Baca Juga: Memahami Diaspora Indonesia: Identitas, Peran, dan Kesalahpahaman Publik
Penyakit ini dapat dicegah dengan cara dasar dan paling sederhana, yakni menerapkan gaya hidup yang bersih.
Langkah awal yang dapat diambil dari cara ini adalah dengan mencuci segala peralatan sebelum digunakan, mencuci bersih sayur dan buah sebelum dimakan, dan lainnya.
Kasus tragis Raya yang menyayat hati mampu menunjukkan bahwa penyakit yang kerap kali diremehkan dapat berakibat fatal jika lingkungan dan akses layanan tidak mendukung.
Dengan mengetahui gejala, jenis cacing, dan cara cacing menginfeksi tubuh, masyarakat serta pemerintah diharap untuk semakin memperhatikan lingkungan, gaya hidup, dan layanan kesehatan agar lebih memadai sekaligus meminimalisir terulangnya kejadian cacingan akut.
FANEZA/FADYA
Editor : Imron Arlado