JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Berkhayal atau berimajinasi adalah hal yang umum atau wajar jika dilakukan disaat-saat yang membosankan, seperti di tengah pelajaran atau dalam perjalanan Panjang atau bahkan saat kita sedang duduk santai sambil menatap langit sore.
Pikiran kita kadang mengembara, melamun membayangkan scenario hidup yang berbeda, yang bahkan takdir pun tak akan mungkin mengabulkan sebuah imajinasi yang ada dalam pikiran kita.
Imajinasi menciptakan seseorang yang tidak akan pernah ada, rangkaian percakapan yang belum pernah terjadi, atau bahkan dunia yang belum tentu ada.
Berkhayal adalah bagian alami dari pikiran manusia, itu adalah cara kerja otak untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas dunia, untuk mengolah emosi, bahkan menciptakan ide-ide baru yang berimajinasi.
Baca Juga: Law of Assumption! Mengubah Asumsi dan Imajinasi Jadi Kenyataan, Bisa?
Banyak orang hebat, yang menjadikan imajinasinya dalam bentuk tulisan atau lukisan, seperti penuli, seniman, dan ilmuan. Mereka justru menemukan inspirasi terbesar mereka dari momen-momen ketika mereka “menghilang sejenak” dalam pikirannya sendiri.
Namun tidak semua bentuk khayalan aman atau sehat. Ketika khayalan mulai menghabiskan terlalu banyak waktu, membuat kita menjauh dari kenyataan dan mengganggu kehidupan sehari-hari, kita perlu waspada.
Ini bisa menjadi tanda kondisi yang disebut Maladaptive daydreamin, di mana suatu keadaan seseorang lebih memilih hidup dalam dunia khayalnya karena dunia nyata terasa berat dan menyakitkan.
Secara lebih kompleks Maladaptive daydreaming adalah suatu kondisi psikologis dimana seseorang terlalu tenggelam dalam khayalannya yang terlalu intens, panjang dan menjadi sulit dikendalikan.
Sehingga dengan kondisi tersebut dapat mengabaikan tanggung jawab sosial, pekerjaan dan Pendidikan. Kondisi ini berbeda dengan melamun biasa yang terjadi sesekali dan tidak menimbulkan suatu masalah.
Baca Juga: Memahami Kondisi Hypnic Jerk, Gangguan Tersentak Kaget atau Sensasi Terjatuh saat Tidur
Berbeda dengan Maladaptive daydreaming yang bisa berlangsung berjam-jam, dan menciptakan suatu cerita khayalan yang begitu detail dan menawarkan pelarian emosional bagi penderitanya.
Berikut ciri-ciri Maladaptive daydreaming, ada beberapa tanda yang biasanya dialami oleh pengidap Maladaptive daydreaming:
- Kesulitan dalam mengontrol lamunan. Imajinasi yang terus berlanjut tanpa bisa dihentikan mengkipun sadar bahwa itu mengganggu kehidupan nyata.
- Mengabaikan tanggung jawab dan melupakan sesuatu yang merupakan sebuah kewajiban seperti bekerja, sekolah atau berinteraksi sosial, karena terlalu fokus dengan imajinasinya sendiri.
- Perilaku fisik dan berekspresi saat melamun, kadang juga disertai gerakan tubuh berulang-ulang, bisikan atau perubahan wajah yang tidak disadari.
Pengidap Maladaptive daydreaming sadar akan perbedaan antara khayalan dan kenyataan. Berbeda dengan skizofrenia di mana penderita ini mengalami delusi dan kesulitan membedakan realita.
Namun pengidap Maladaptive daydreaming ini juga bisa berdampak negatif yang signifikan bagi kesehatan mental dan fungsi sosial pengidapnya, bahkan bisa menyebabkan meningkatnya risiko muncul depresi, ADHD, atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD).
Penanganan maladaptive daydreaming umumnya melibatkan terapi psikologis, terutama terapi perilaku kognitif (CBT), yang berfungsi membantu individu mengenali pemicu dan mengurangi frekuensi serta intensitas khayalan berlebihan.
Selain itu, pendekatan sosial dan dukungan dari keluarga juga penting untuk membantu penderita kembali fokus menjalani kehidupan nyata dan memperbaiki kemampuan fungsi sosialnya. Wulandari
Editor : Imron Arlado