JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Sifat mengalah sangatlah baik jika dilakukan dalam kondisi dan waktu yang tepat. Akan tetapi jika terlalu mengalah untuk orang lain akan merusak mental diri sendiri.
Sebagai manusia, sikap mengalah merupakan salah satu hal yang mulia. Manusia selalu didorong untuk selalu berbuat baik terhadap sesame. Dan selalu berhati-hati dalam menjaga ucapan dan tindakan agar tidak melukai perasaan orang lain.
Selain itu, penting juga untuk mengendalikan ego agar tidak mengabaikan kepentingan orang lain. Salah satu sikap yang sudah diajarkan dari kecil dan menjadi kebiasaan hingga dewasa adalah sikap mengalah.
Banyak dari kita yang terbiasa mengalah dan merelakan hal-hal yang sebenarnya sangat kita inginkan. Sehingga tak jarang kita menahan keinginan diri sendiri demi kepentingan orang lain.
Baca Juga: Sering Berkendara dan Suka Bicara Sendiri: Kebiasaan Unik atau Anda sedang Mengalami Stres?
Semua itu dilakukan bukan tanpa alasan, karena terbiasanya mengalah untuk menjaga sebuah bentuk keharmonisan dalam lingkup pertemanan ataupun pasangan.
Namun kenyataannya bersikap mengalah tidak selalu menguntungkan bagi diri sendiri. Meskipun awalnya bertujuan untuk menghindari konflik, terlalu sering mengalah justru dapat menimbulkan dampak negatif bagi diri kita yang terus menekan keinginan pribadi.
Lalu apa saja dampak dan konsekuensi seseorang yang terlalu menjadi pribadi yang selalu mengalah?
- Kesulitan Menetapkan Batasan Pribadi dan Rasa tidak Dihargai
Terlalu sering mengalah dapat membuat seseorang kesulitan untuk menolak, sehingga kebutuhan dan keinginannya terus diabaikan. Dan orang yang terbiasa mengalah akan merasa bersalah jika menolak permintaan orang lain, meskipun itu sebenarnya adalah haknya.
Terlalu sering mengatakan “ya” padahal niat hati ingin berkata “tidak” membuat seseorang merasa dirinya tidak dihargai, sehingga lama-kelamaan menurunkan kepercayaan diri dan harga dirinya.
- Hambatan Perkembangan Pribadi dan Kehilangan Identitas Diri
Terlalu mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan diri sendiri dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk mengejar tujuan dan mengembangkan potensi diri, sehingga dapat menyebabkan perkembangan pribadinya sedikit terhambat.
Sering berkata “iya” dan sulit menolak dapat membuat seseorang merasa diabaikan dan tidak berarti, sehingga perlahan kehilangan identitas diri dan kesulitan memahami siapa dirinya yang sebenarnya.
Baca Juga: Gemar Kirim Stiker Meme di WhatsApp? Mungkin Kamu Punya Kepribadian Ini!
- Meningkatkan Stres dan Kecemasan
Jika secara terus-menerus memendam perasaan dan keinginan pribadi demi menyenangkan orang lain, seseorang akan berisiko mengalami tekanan mental yang berat dan perasaan tertekan.
Menjadi orang yang merasa bingung akan keinginan dan keyakinan diri sendiri, dan merasa seolah-olah kehilangan kendali atas hidup dan terus selalu mengikuti keinginan orang lain.
Baca Juga: Cara Unik Atasi Stres! Manfaat Corat-coret Buku yang Jarang Diketahui
Dan kebiasaan memendam perasaan ini menyebabkan stress berkepanjangan dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan mental seperti depresi.
Ketika emosi tidak diungkapkan maka energi negatif akan tertahan dalam tubuh dan mempengaruhi fungsi otak serta kesehatan secara keseluruhannya. Dan penumpukan emosi yang berlanjut dapat membuat seseorang merasa tertekan, cemas, hingga merasa putus asa.
Kebaikan orang yang mengalah patut diteladani, tapi ingat bahwa kita juga manusia yang butuh dimengerti juga. Kita selalu berharap orang lain akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Wulandari
Editor : Imron Arlado