JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Bagi sebagian orang makanan jika disajikan dalam kondisi sangat panas tidak dapat menikmati makanan dengan enak. Maka orang-orang yang terlanjur tidak sabar untuk makan memilih meniup makanannya daripada menunggu makanan itu dingin secara alami.
Akan tetapi ada sebagian orang yang lebih tahan dengan makanan panas dan merasa jauh lebih nikmat jika mengkonsumsinya dalam keadaan panas tanpa harus ditiup, dan ada juga yang merasa sebaliknya.
Sebenarnya meniup makanan boleh dilakukan jika makanan yang ditiupnya itu untuk dimakan sendiri. Sehingga meniup makanan yang dalam kondisi panas bisa mencegah sariawan di mulut.
Baca Juga: Ketahui Sweet Tooth si Penyuka Makanan Manis, Namun Bahaya Jika Berlebihan
Akan tetapi risiko jika meniup makanan yang dikonsumsi oleh orang lain dapat berpotensi menularkan kuman, sehingga dapat memindahkan bakteri dan virus dari mulut ke makanan.
Selain itu meniup makanan juga dapat menyebabkan peningkatan tingkat keasaman pada makanan, dikarenakan karbon dioksida yang keluar dari napas bereaksi dengan uap dari makanan yang membentuk senyawa asam baru.
Berikut beberapa bahaya meniup makanan yang dalam kondisi panas:
- Menganggu Keseimbangan Asam dalam Tubuh
Napas manusia mengandung karbon dioksida (CO2), sehingga bereaksi saat CO2 bertemu dengan uap air dari makanan panas, dan membentuk asam karbonat (H2CO2).
Jika senyawa asam masuk ke dalam tubuh dalam jumlah besar atau berulang-ulang, hal tersebut dapat memungkinkan menurunnya pH darah dan dapat mengganggu keseimbangan asam basa dalam tubuh.
Dalam kondisi yang sangat parah, hal ini dapat menyebabkan gejala serius seperti mual, kelelahan, syok dan bahkan kematian. Meskipun dalam kasus seperti ini sangat jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Pusat Produk Unggulan Kota Mojokerto Sajikan Ragam Makanan Berkualitas
- Berpotensi Mengganggu Kesehatan
menurut para ahli terdapat sejumlah mikroorganisme pada makanan panas yang ditiup maupun tidak ditiup. Dan didapatkan hasil perbedaan yang terlalu signifikan diantara keduanya, yaitu terdapat mikroorganisme lebih banyak pada makanan yang ditiup.
Sehingga hal tersebut meningkatkan kemungkinan infeksi serta penularan penyakit seperti flu, tuberkulosis (TBC), bahkan hepatitis.
Apabila seseorang yang meniup makanan sedang dalam kondisi sakit, dapat menyebabkan virus dan bakteri dari mulutnya berpindah ke makanan dan berisiko menularkan penyakit kepada orang lain yang memakan makanan tersebut.
Baca Juga: 5 Makanan yang Wajib Disantap saat Musim Pancaroba, Dijamin Lezat dan Menyehatkan
Secara umum, meniup makanan dianggap kurang higienis karena dapat memindahkan partikel asing dari mulut ke makanan.
Meniup makanan yang baru saja matang atau masih mendidih sebaiknya jangan dilakukan, karena uap panas yang mengenai area sensitif seperti wajah, mata serta selaput lendir di mulut, hidup dan tenggorokan dapat menimbulkan luka bakar.
Selain itu juga, menghirup uap panas dapat menyebabkan risiko masalah pernapasan seperti batuk, sesak nafas, mengi atau kesulitan menelan. Oleh karena itu disarankan untuk menunggu makanan sedikit hangat sebelum menikmatinya.
Bisa dengan cara mendiamkan selama beberapa saat atau menggunakan kipas angin. Dan ada beberapa cara yaitu dengan meratakan makanan panas di atas piring, memotong-motong kecil, dan juga menaruhnya di mangkuk kecil jika itu berupa sayur kuah. Wulandari
Editor : Imron Arlado