JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di era masa kini mulai marak terjadinya penyakit resistensi insulin atau yang biasanya dikenal sebagai penyakit diabetes melitus.
Dilansir dari laman YouTube milik Dokter Tirta yaitu Tirta pengpengpeng, bahwa hal itu dapat dipicu karena terlalu sering mengkonsumsi makanan instan dalam kemasan secara rutin.
Makanan instan dalam kemasan yang telah mengalami berbagai tahapan pengolahan dan mengandung bahan atau zat tambahan disebut dengan Ultra Processed Food.
Makanan ultra proses banyak dikonsumsi karena praktis dari segi cara pengonsumsian hingga cara mendapatkannya, rasanya yang terasa lebih enak juga membuat semua orang yang mengkonsumsinya merasa candu.
Selain karena praktis dan rasanya yang enak, ultra processed food juga umumnya dibanderol dengan harga yang lebih terjangkau dari harga bahan makanan yang segar.
Bahan atau zat tambahan yang terkandung dalam makanan ultra proses biasanya adalah bahan-bahan yang jarang ditemui di dapur rumahan.
Contohnya seperti pewarna, pengawet, dan perasa buatan. Makanan ultra proses umumnya mengandung protein dan gizi yang rendah namun tinggi kalori, gula, garam, dan juga lemak. Terutama lemak jenuh dan trans.
Di laman YouTube miliknya, Dokter Tirta menuturkan bahwa makanan yang termasuk dalam kategori UPF seperti nugget, mie instan, dan sarden jika dikonsumsi secara terus-menerus akan sangat erat kaitannya dengan obesitas, diabetes melitus, dan hipertensi.
Dokter Tirta juga menghimbau semua orang untuk mengkonsumsi Ultra Processed Food hanya saat dalam keadaan darurat.
Keadaan darurat dalam konteks ini diartikan sebagai keadaan saat seseorang tidak sempat membeli bahan makanan karena sedang hujan deras atau dalam keadaan darurat lainnya dan hanya tersisa makanan instan di rumah.
Ultra processed food juga sangat tidak disarankan untuk diberikan kepada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Hal ini dikarenakan saat masa pertumbuhan, anak-anak membutuhkan kandungan protein, mineral, vitamin, dan gizi lainnya yang terkandung dalam real food.
Baca Juga: Satu Tersangka Lempar Sinyal Jadi Justice Collaborator
Sedangkan ultra processed food yang mengandung lebih banyak gula, garam, dan lemak daripada kandungan nutrisi dapat menghambat pertumbuhan anak.
Real food sendiri adalah istilah untuk makanan yang alami dan minim proses, serta bebas dari bahan tambahan seperti pengawet, perasa, dan pewarna buatan.
Real food dipercaya lebih aman dan sehat dikonsumsi karena bahan-bahannya yang segar, organik, dan kandungan nutrisinya yang lebih utuh dan tidak ada zat kimia tambahan.
Ultra processed food juga dianggap dapat "menipu" otak. Fenomena ini terjadi karena makanan ultra processed seringkali didesain dengan rasa yang memuaskan dan membuat kecanduan.
Hal ini disebut dengan fenomena hyper palatable, kondisi disaat tubuh memberi sinyal sudah kenyang, namun otak tetap ingin melanjutkan makan karena merasa kecanduan rasa.
Tak hanya itu, UPF juga dipercaya dapat berpengaruh pada fungsi otak dan kesehatan mental. UPF yang dikonsumsi secara rutin akan semakin erat kaitannya dengan penurunan fungsi kognitif seperti konsentrasi dan ingatan.
Selain konsentrasi dan ingatan, UPF juga dianggap dapat menyerang fungsi kognitif lainnya seperti depresi serta gangguan suasana hati.
Baca Juga: Terseret Korupsi, Karir Dua ASN Pemkot Terancam Berakhir
Makanan ultra proses juga dapat berpengaruh pada ritme biologis tubuh, metabolisme, dan Kesehatan hormon.
Hal ini akan terjadi saat seseorang terus-menerus mengkonsumsi UPF sebagai camilan terutama di malam hari.
Cara mengetahui bahwa sebuah makanan termasuk dalam ultra processed food dapat dilihat dari daftar bahan pada label kemasan.
Jika makanan tersebut mengandung lebih banyak bahan atau zat tambahan, kemungkinan besar itu adalah ultra processed food. Produk dengan klaim rendah lemak dan bebas gula sering kali termasuk ultra processed food karena telah mengalami banyak pengolahan industry.
FANEZA
Editor : Imron Arlado