JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Beberapa tahun terakhir, isu-isu tentang kesehatan mental semakin menjadi sorotan, terutama bagi kalangan anak-anak yang masih remaja. Kesadaran untuk pentingnya menjaga kesehatan mental kini bukan lagi hal tabu.
Kesadaran akan kesehatan mental di kalangan remaja merupakan gerakan positif yang berkelanjutan dan penting daripada hanya sebuah tren sesat.
Karena masalah kesehatn mental remaja merupakan isu serius yang membutuhkan perhatian penuh dan penanganan lebih lanjut.
Hal ini, menjadi topik yang banyak dibicarakan di berbagai platform, mulai dari obrolan santai di sekolah hingga media sosial seperti instagram, TikTok, dan Twitter.
Para influencer, selebritas, hingga tokoh publik pun tak segan berbagai pengalaman mereka menghadapi depresi.
Bagi banyak kalangan remaja, mental health awareness menjadi jembatan untuk mengenali dan memahami diri sendiri.
Fenomena ini menunjukan adanya pergeseran besar dalam cara cara masyarakat, khususnya untuk para remaja, memandang isu kesehatan mental.
Mereka mulai belajar mengenali emosi, mengidentifikasi stres, dan memahami pentingnya mencari bantuan ketika mengalami tekanan mental yang terlalu berat.
Ini adalah perkembangan yang sangat positif, mengingat sebelumnya banyak remaja memilih diam karena takut akan stigma atau dianggap terlalu lemah jika berbicara tentang masalah kesehatan mental.
Tak sedikit juga yang mendukung mereka dalam perjalanan menjaga kesehatan mental. Istilah-Istilah seperti anxiety, bipolar, OCD, hingga trauma, sering, dipakai secara sembarangan tanpa diagnosis profesional, seolah menjadi label bisa semua orang pakai
Namun, di tengah maraknya kampanye kesehatan mental, muncul pula kekhawatiran, apakah semua ini terlahir dari pemahaman yang benar, atau hanya sekedar menjadi tren yang diikuti demi terlihat relevan di media sosial?
Hal ini juga berisiko menimbulkan kesalahpahaman, dan bahan membuat masalah kesehatan mental terkesan sangat remeh atau dianggap sebagai gaya-gayaan semata.
Beberapa konten yang menggambarkan perasaan depresi atau rasa sakit secara emosional seakan-akan sesuatu yang puitis atau “estetik” misalnya lewat foto-foto gelap yang bernuansa sedih atau kutipan kata-kata melankolis.
Padahal, realitas gangguan mental sering kali jauh lebih kompleks, menyakitkan, dan membutuhkan penanganan serius.
Di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa tren mental health awareness juga telah mendorong banyak lembaga pendidikan, komunitas, dan pemerintah untuk serius menanggapi hal ini.
Ketika masalah kesehatan mental dijadikan sebuah konten hanya untuk meraih simpati, likes, atau engagement, dikhawatirkan pesan yang sampai ke anak-anak remaja justru menjadi kabur.
Di sekolah-sekolah saat ini juga sudah mulai menghadirkan konselor, menyediakan ruang konsultasi, hingga mengadakan seminar tentang bagaimana cara menjaga kesehatan mental.
Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya lah tren sementara. Ia adalah kebutuhan mendasar setiap pribadi yang harus dijaga, dihormati, dan ditangani dengan baik.
AILEEN ZNR