JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Hypophrenia mungkin terdengar tidak asing, istilah ini merujuk pada kondisi psikolog yang merasa sangat emosional sampai membuat penderita menangis tanpa adanya sebab yang jelas.
Dilansir dari artikel ciputra medical center, perasaan sedih umumnya merupakan salah satu bentuk emosi dan respon alamiah yang diberikan oleh otak pada kondisi tertentu. Namun, jika tanpa adanya sebab seseorang merasa sedih secara terus-menerus makan dinamakan hypophrenia.
Normalnya, seseorang merasa sedih dikarenakan kondisi tertentu karena kecewa, terluka, adanya penolakan, hingga adanya masalah dan kenangan buruk yang membuat trauma.
Untuk mengenal lebih dalam terkait kondisi hypophrenia, berikut penjelasannya.
Penjelasan Hypophrenia
Dilansir dari Siloam Hospitals, hypophrenia adalah istilah medis untuk menyebut seseorang yang tiba-tiba menangis tanpa alasan atau penyebab yang jelas.
Penderita biasanya merasakan perasaan sedih tidak normal sehingga membuatnya menangis tanpa alasan yang jelas dan membawa dampak negatif pada kehidupan pribadinya.
Baca Juga: Alasan Perempuan Potong Rambut Ketika Merasa Sedih atau Stres Akibat Putus Cinta, Breakup Haircut
Baca Juga: Mendung Bikin Galau? Berikut Alasan Ilmiah Dibalik ‘Winter Blues’ Cuaca Hujan Sering Bikin Sedih!
Kondisi ini tentu dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari seperti saat sedang kerja, dengan hubungan sosial, dan bahkan kesehatan fisik atau mental penderita.
Penyebab Hypophrenia
Menurut artikel Siloam Hospitals, belum ada penyebab pastinya. Namun, terdapat beberapa kondisi yang diduga dapat memicu seseorang mengalami hypophrenia.
- Perubahan hormon, biasa terjadi saat hamil, menopause, menstruasi.
- Post traumatic stress disorder, gangguan mental yang terjadi karena trauma masa lalu.
- Gangguan cemas, kelelahan mental bisa menjadi pemicu gangguan cemas, kondisi ini dapat memicu seseorang menangis tanpa alasan.
- Depresi, gangguan suasana hati yang membuat merasa sedih terus-menerus dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang awalnya disukai.
- Organic Brain Syndrome (OBS), adanya kerusakan otak yang dapat menyebab gangguan mental, umumnya terjadi pada lansia.
- Pseudobulbar affect (PBA), gangguan ini terjadi karena terputusnya hubungan atau koneksi antara batang otak, lobus frontal otak besar, dan otak kecil.
Terdapat beberapa kondisi yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami hypophrenia, seperti:
- Penyakit keturunan seperti Tay-Sachs atau fenilketonuria.
- Down syndrome
- Cedera otak
- Malnutrisi
- Keracunan senyawa kimia berbahaya
- Gangguan janin selama dalam kandungan
- Gangguan pada bayi saat lahir akibat kekurangan oksigen atau kelahiran prematur.