JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Beberapa orang beranggapan saat sedang stres nafsu makan akan menurun, apakah anggapan ini benar atau hanya mitos?
Saat sedang stres, tanpa disadari tubuh meningkatkan nafsu makan dikarenakan hormon kortisol yang dikeluarkan oleh tubuh. Namun, perlu diingat reaksi yang ditimbulkan oleh tubuh akan berbeda.
Ada yang dapat mempengaruhi berat badan sehingga makin meningkat, ada juga yang mempengaruhi berat badan makin menurun. Faktor ini disebut dengan istilah emotional eating atau makanan emosional.
Dikutip dari hellosehat.com ketika kita mengguanakan sebagai cara untuk mengatasi emosi kita, bukan makan karena kita lapar itu disebut dengan emotional eating. Tentunya hal ini dikarenakan tubuh sedang merespon stres, marah, sedih, dan lainnya. Tujuan dari makan saat kondisi seperti ini adalah untuk menenangkan emosi pada diri.
Tak heran jika saat sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil tubuh akan merasa mudah lapar. Jika secara tidak sadar kondisi ini secara terus-menerus berlangsung akan mempengaruhi berat badan, kesehatan tubuh maupun mental.
Mengenal Emotional Eating dan Respon Terhadap Tubuh
Kondisi ini merupakan respon yang dihasilkan tubuh terhadap perasaan, yang bukan dikarenakan kebutuhan energi tubuh. Emosi yang paling sering menjadi pemicu adalah stres, sedih, bosan, kesepian, marah, atau bahkan cema.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tubuh yang merespons pelepasan hormon kortisol akan menjadikan kita mudah lapar. Tentunya jika semakin dibiarkan akan meningkatkan tinggi gula dan lemak pada tubuh.
Hal ini dikarenakan makanan memberikan respon atau rasa nyaman dan memicu pelepasan dopamin (hormon senang), sehingga menciptakan ketergantungan emosional.
Ciri-Ciri Tubuh Terjebak Emotional Eating
- Makan saat tidak lapar fisik, misalnya ketika sudah makan tiba-tiba ingin camilan sambil nonton tv saat merasa bosan.
- Mencari makanan tertentu, keinginan yang kuat untuk makanan manis, asin, atau yang berlemak tinggi.
- Makan dengan cepat tanpa sadar, misalnya dengan makan porsi besar namun tidak benar-benar menikmatinya.
- Makan sebagai pelarian emosi, saat sedang sedih, stres, atau marah lebih memilih makan.
Strategi Diet Tanpa Beban Mental untuk Atasi Emotional Eating
Jangan atasi permasalahan ini dengan diet yang ketat dan menyiksa. Berikut beberapa cara yang dapat digunakan.
- Kenali terlebih dulu pemicu emosionalnya
- Temukan alternatif lain selain makan
- Praktikkan mindful eating (makan dengan kesadaran penuh)
- Kelola stres dengan efektif
- Prioritaskan nutrisi, bukan kalori
- Cari dukungan dan bantuan profesional
Editor : Imron Arlado