Jawa Pos Radar Mojokerto - Pada era digital atau media sosial ini menjadikan platform utama bagi para Gen Z.
Terlebih lagi, banyak dari mereka menjadikan platform ini untuk membangun diri atau identitas mereka. Sayangnya, dari sekian banyaknya fitur positif di media sosial, tetap ada sisi negatifnya. Salah satunya adalah kemunculan Toxic Positivity.
Toxic Positivity adalah perasaan seseorang di mana mereka hanya bisa menjadi orang yang bahagia dan baik-baik saja di depan orang lain.
Mereka yang menjadi toxic positivity akan berusaha untuk selalu bahagia, sempurna, padahal hidup mereka jauh dari yang namanya itum
Pengertian Toxic Positivity
Toxic Positivity adalah kondisi dimana seseorang menuntut diri mereka sendiri bahkan orang lain untuk berpikir positif dan menolak segala pikiran negatif.
Mereka yang mengalami toxic positivity akan mengesampingkan segala emosi negatif, mulai dari sedih, takut, cemas, kecewa, meskipun mereka berada di posisi yang sulit.
Meskipun pemikiran tersebut bisa dianggap hal baik, tetapi ternyata toxic positivity bisa menjadi hal yang buruk dan merugikan karena mereka mengabaikan realita dan tekanan yang dialami orang lain bahkan dirinya sendiri.
Padahal, memiliki emosi negatif juga sangat penting karena agar seseorang tersebut dapat lega dan merasa lebih baik
Dengan menjadi orang toxic positivity, mereka menganggap bahwa berpikir positif akan menyelesaikan semua masalah yang ada. Kondisi tersebut ternyata bisa di dapat dari orang lain maupun diri kita sendiri.
Baca Juga: Fakta Fakta Tentang Holy Knight One Piece yang Sombong dan Tidak Pernah Adil
Ciri-Ciri Toxic Positivity
Kepribadian toxic positivity seringkali tidak disadari oleh orang-orang. Kebanyakan orang menganggapnya hal sepele dan biasa. Maka dari itu, kenali ciri-ciri kepribadian toxic positivity, seperti di bawah ini:
- Menyemangati orang lain, namun terdapat pernyataan yang meremehkan.
- Menghakimi seseorang yang meluapkan emosi negatif seperti menangis dan marah. Mereka akan menghakimi orang-orang yang melakukan hal seperti itu.
- Merasa bersalah kepada diri sendiri ketika meluapkan emosi atau pikiran negatif.
- Mengucapkan kalimat positif disaat kondisi buruk dengan tujuan harus berpikir positif.
Dampak Toxic Positivity
Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, tak terkecuali dengan berpikir positif. Inilah dampak buruk bagi orang yang memiliki kepribadian toxic positivity
- Emosi yang menumpuk. Orang-orang yang memiliki kepribadian toxic positivity akan kesulitan meluapkan emosi, sehingga sering mengidap gangguan mental seperti PTSD dan anxiety.
- Kesulitan untuk mengeluarkan emosi. Mereka yang menjadi kepribadian toxic positivity cenderung susah untuk mengeluarkan atau melampiaskan emosi mereka. Mereka akan cenderung menjadi “yes people” dan mengikuti alur yang ada.
- Membahayakan diri mereka sendiri dan mengabaikan keadaan buruk. Ketika sudah menjadi toxic positivity, mereka akan mengabaikan hal-hal buruk atau jahat di sekitarnya. Semisalnya, hubungannya dengan pacarnya yang kasar, mereka cenderung mengabaikan dan memaafkan pasangan mereka ditambah lagi dengan pemikiran positif bahwa pacar mereka akan berubah menjadi lebih baik.
- Rendah diri atau inferiority complex. Mereka yang menjadi toxic positivity akan menjadi orang yang rendah diri. Terlebih lagi ketika bersama orang lain, mereka akan menjadi pribadi yang rendah diri ketika walaupun terlihat tidak baik-saja.
Cara Menghindari Toxic Positivity
Meskipun sulit, terdapat juga cara-cara agar terhindar dari toxic positivity. Mereka hanya perlu paham tentang emosi yang ada di dalam diri mereka, baik positif maupun negatif. Berikut adalah cara-cara agar terhindar dari toxic positivity.
1. Mengatur Segala Emosi yang Negatif
Meskipun meluapkan emosi negatif juga tidak baik, tetapi terkadang kita memang harus meluapkan emosi negatif agar diri kita menjadi lebih baik dan lega.
Mereka dapat mengatur dan mengelola emosi negatif dengan cara menulis jurnal dan mendengarkan lagu yang tenang serta meluangkan waktu dengan keluarga.
2. Memahami Masalah Tanpa Menghakimi
Toxic Positivity terbentuk dikarenakan emosi positif yang terlalu berlebihan. Maka dari itu, ketika mereka yang terkena toxic positivity mendengarkan seseorang berkeluh kesah, mereka akan gelisah.
Yang harus mereka lakukan adalah mereka harus paham dengan masalah yang terjadi. Mereka tidak harus menghakimi mereka yang bercerita serta tidak harus membanding-bandingkan keadaan diri sendiri dengan orang lain.
3. Selalu Berpikir Bahwa “Tidak Apa Jika Tidak Baik-Baik Saja
Penerapan kalimat tersebut dapat membuat mereka tidak menjadi kepribadian toxic positivity. Kalimat tersebut menandakan bahwa untuk memiliki emosi negatif atau hal buruk itu tidak apa-apa.
Karena, tidak semua hal atau rencana yang telah kita buat berjalan dengan semau kita. Jadi, ingatlah bahwa ketika seseorang merasa tidak baik-baik saja, itu sepenuhnya wajar.
Itulah pengertian toxic positivity serta ciri-ciri, dampak dan cara menghindarinya. Bagaimana menurutmu? RENO
Editor : Imron Arlado