JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Suatu hubungan dapat dibangun dengan mudah, bahkan sekedar bertransaksi dapat berakhir menjadi obrolan.
Namun dalam menjalani suatu hubungan, tak semua orang merasakan kenyamanan untuk melakukan komitmen.
Di era Gen Z banyak yang merasakan ketakutan akan komitmen yang pada akhirnya berakhir menjadi ghosting, hingga ketidaktersediaan emosional.
Hal tersebut bisa disebabkan oleh ketakutan dalam kedekatan secara emosional, adanya keraguan, bahkan kecemasan dalam menjalin hubungan ketika mengarah ke keseriusan.
Apakah kalian tahu? ternyata faktor tersebut bisa disebabkan adanya masalah lampiran. Dimana adanya pengaruh masa kecil dalam membangun pola ketertarikan emosional yang terbawa sampai dewasa.
Mengenal Masalah Lampiran
Attachment Issues merupakan suatu pola hubungan emosional yang terbangun ketika seseorang masih kecil, yang terjadi antara seorang anak dengan orang tua atau pengasuhnya. Pola ini memiliki masalah dalam ketertarikan yang terjadi pada seseorang ketika menjalin hubungan emosional yang tidak stabil sejak kecil.
Misalnya, pola asuh orang tua yang sering kali abai, tidak memberikan perhatian lebih, atau bahkan terlalu keras terhadap anak dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi orang dewasa yang sulit mempercayai orang lain.
Seseorang yang terdampak masalah keterikatan sering kali merasa tidak layak dicintai, merasa takut disakiti, dan bahkan terkesan menarik diri terhadap suatu hubungan karena adanya ketakutan akan hilangnya kendali dan kebebasan terhadap diri sendiri
Menurut penjelasan beberapa psikolog, ada empat jenis pola ketertarikan utama yang dapat terbentuk sejak kecil sehingga berpengaruh dalam hubungan dewasa:
- Ketertarikan aman
- Ketertarikan pada rasa cemas
- Ketertarikan menghindar
- Ketertarikan tidak teratur
Empat jenis pola ketertarikan ini dapat menciptakan ketegangan dalam suatu hubungan yang menjadikan pasangan terbebani. Sehingga pengalaman yang dirasakan seseorang saat kecil memiliki peran besar dalam suatu hubungan.
Cara Atasasi Ketakutan dalam Berkomitmen
Berikut beberapa cara yang bisa kamu coba untuk mengatasi ketakutan dalam komitmen.
- Mengenali pola ketertarikan diri sendiri
Coba perhatikan diri Anda, pahami bagaimana kamu menyikapi pola hubunganmu. Jika kamu merupakan sosok yang mudah curiga, sulit mempercayai hubungan, bahkan sering meyakinkan pasangan cobalah memahami masalah keterikatan untuk proses menyembuhkan diri.
Baca Juga: Self Love Bukan Sikap Egois! Ini Beberapa Cara Mencintai Diri Sendiri Tanpa Merugikan Orang Lain
- Komunikasikan beberapa hal dengan terbuka
Bangun hubungan yang jujur dan terbuka dengan pasangan terkait kekhawatiran mu, luka lama, dan beberapa hal yang dirasa tidak nyaman. Dalam hal ini, bangun komunikasi yang sehat agar rasa aman dan kepercayaanmu terbangun.
- Jangan terlalu terburu-buru
Bangun hubungan yang sehat, tidak perlu terburu-buru atau bahkan memaksakan diri untuk langsung siap jika dirasa belum. Namun, kamu juga jangan lari terus-menerus dari suatu komitmen tanpa memahami pasanganmu.
- Mohon bantuan profesional
Cobala untuk konsultasi dengan psikolog atau terapis terkait pola keterikatan. Dan cobalah mengatur strategi dalam proses pengelolaan rasa takut, cemas, atau trauma di masa kecilmu.
Baca Juga: Kenapa Perempuan Mudah Marah karena Masalah Sepele? Ini Fakta dan Cara Mengendalikan Tanpa Drama
- Fokuskan diri pada pertumbuhan
Bangun kepercayaan diri dan jadilah mandiri secara emosional dapat membantu kamu menjadi seseorang yang siap dalam menjalani hubungan yang sehat dan dewasa.
Perlu diketahui bahwa masalah keterikatan bukan berarti kamu pribadi yang tidak dapat mencintai atau bahkan tidak mampu menjalin hubungan yang serius. Masalah tersebut merupakan bentuk perlindungan diri akibat pengalaman masa kecil yang kamu dapatkan.
Editor : Imron Arlado