Meningkatnya kesadaran masyarakat akan hidup sehat, memengaruhi kebutuhan pelayanan dan pemerataan kesehatan. Keberhasilan suatu daerah dalam aspek kesehatan, salah satunya ditinjau dari pengendalian angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Kabupaten Mojokerto terus berkomitmen mengembangkan jaminan, kualitas pelayanan kesehatan yang optimal, menyeluruh, dan terpadu, melalui program-program pembangunan kesehatan. Setidaknya hal itu didukung dengan upaya kaji banding penguatan dan pengendalian AKI-AKB.
Kaji banding tersebut berlangsung di Puskesmas Ngadirojo, Kabupaten Pacitan pada Senin-Selasa (2-3/9) kemarin. Kunjungan tersebut diikuti Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, 27 kepala puskesmas se-kabupaten Mojokerto, serta bikor dan pemegang program KB.
’’Kegiatan ini sebagai upaya penguatan pengendalian dan penurunan AKI AKB atas petunjuk dan koordinasi dengan dinkes provinsi dan program terkait di wilayah Jawa Timur. Salah satu pilihannya dengan kaji banding ke Kabupaten Pacitan,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto dr Ulum Rokhmat Rokhmawan, kemarin (3/9).
Menurut Ulum, meski saat ini capaian AKI-AKB di Kabupaten Mojokerto terbilang baik dalam rata-rata nasional dan provinsi, namun kaji banding menjadi bagian ikhtiar Kabupaten Mojokerto agar mencapai hasil pengendalian yang lebih optimal.
’’Diharapkan dengan adanya informasi, pengetahuan dan kemampuan tambahan dari kegiatan ini, bisa menjadikan inovasi-inovasi yang telah digagas untuk dimaksimalkan sebagai upaya pengendalian, serta penurunan AKI dan AKB. Sehingga nantinya dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Mojokerto,” tandasnya.
Selama kegiatan berlangsung, seluruh peserta kaji banding mendapat materi seputar kebijakan pemerintah daerah dalam kesehatan dari Dinkes Kabupaten Pacitan dan Puskesmas Ngadirojo. Di antaranya, strategi penanggulangan permasalahan AKI-AKB, serta pemaparan inovasi SIGISTABESTI (sistem informasi gizi balita bebas stunting) Puskesmas Ngadirojo.
’’Inovasi ini berupa aplikasi gizi berbasis android yang langsung masuk EPPGBM cakupan real time. Sehingga dari pemaparan tersebut nantinya Kabupaten Mojokerto bisa mengadopsi usaha mereka untuk penurunan AKI-AKB,” terang Ketua Paguyuban Puskesmas se-Kabupaten Mojokerto Edi Gandiriyanto.
Kepala Puskesmas Modopuro tersebut menambahkan, kaji banding ini menjadi salah satu bentuk komitmen 27 puskesmas di 18 kecamatan Kabupaten Mojokerto dalam rangka mengentaskan angka kematian ibu dan bayi. Ia menilai AKI-AKB merupakan permasalahan multidimensional yang perlu solusi dan strategi secara komprehensif.
’’Kunjungan kaji banding ini, tentunya agar kami lebih belajar dan sedikit meniru keberhasilan Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dan Puskesmas Ngadirojo dalam meningkatkan penurunan AKI dan AKB. Semoga Kabupaten Mojokerto segera menyerap dan dapat mengaplikasikan langkah-langkah baik yang dicapai,’’ tandasnya. (oce/ris/adv)
Editor : Hendra Junaedi