Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bau Tak Sedap di Aliran Sungai Banjarsari Kian Parah

Khudori Aliandu • Senin, 26 Agustus 2024 | 13:45 WIB
MENGGANGGU: Aliran sungai di sepanjang Desa Jerukseger, Kecamatan Gedeg hingga Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis berwarna hitam pekat. Warga menduga sungai tercemar dari limbah pembuangan PT Enero.
MENGGANGGU: Aliran sungai di sepanjang Desa Jerukseger, Kecamatan Gedeg hingga Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis berwarna hitam pekat. Warga menduga sungai tercemar dari limbah pembuangan PT Enero.

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto - Warga Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto kian tak nyaman dengan keberadaan bau tak sedap yang diduga dibuang ke aliran sungai. Selain membuat nafsu makan hilang, bau yang ditimbulkan juga membuat kepala pusing.

Seperti yang diungkapkan Subagio. Warga setempat ini mengaku sudah beberapa pekan ini bau tak sedap menyelimuti lingkungannya. Dia menduga, bau yang singgah hingga dalam rumah itu bersumber dari limbah yang dibuang ke aliran sungai di desanya.

Ditengarai, bau ditimbulkan dari aktivitas dua pabrik yang tengah beroperasi di Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg. ’’Sekarang kan PG dan Etanol, dua-duanya beroperasi. Dugaan warga dari situ limbahnya,’’ ungkapnya.

Bau tak sedap yang cukup kuat ini membuatnya sampai pusing. Kondisi ini pun sangat mengganggu lingkungan warga. Bahkan limbah yang dibuang di aliran sungai membuat ekosistem sungai pada mati.

’’Kangkung yang biasanya subur diambili orang untuk makan bebek, sekarang mati. Pokoknya habis magrib itu parah-parahnya. Mau makan saja tidak enak,’’ terangnya.

Atas kondisi ini pihaknya meminta pemerintah tegas. Tak sekedar diminta berbenah, pabrik yang sudah meresahkan dan berpotensi timbulkan pencemaran lingkungan ini harus ditindak tegas lantaran ini menyangkut kesehatan warga. Bukan warga yang ada disekitar pabrik saja, tetapi desa yang jaraknya cukup jauh ikut terdampak.

’’Masalah limbah kan harus ditangani dengan serius. Jangan sampai membunuh ekosistem yang ada di sungai. Ikan sakarmut aja mati. Nah, kalau ini dibiarkan kan berdampak pada kesehatan warga,’’ sesalnya.

Kenyamanan warga Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, dimana pabrik berdiri juga dibuat resah dengan bau menyengat. ’’Iya baunya kadang-kadang keluar lagi. Parahnya malam hari. Tetapi ya kadang tidak tentu. Seringnya malam,’’ ungkap Sekretaris Desa Gempolkerep Dedi Dwi Andriyo membenarkan keterangan warga.

Sontak kondisi itu membuat pemdes selalu melaporkan ke pihak pabrik jika ada warga yang komplain. ’’Setiap ada pelaporan masalah bau, langsung follow-up ke pihak perusahaan, baik ketua wilayah (RT/RW) maupun pemdes,’’ tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Humas PT Enero Misbahul Su’udi, membantah atas pembuangan limbah ke aliran sungai. Sebab, sejauh ini pabrik plat merah tersebut tak pernah membuang limbah cair.

’’Kita tidak pernah membuang limbah cair. Semuanya kita proses. Sehingga hasil akhirnya berupa menjadi pupuk. Pupuk ini kita jual kepada petani sebagai pupuk alternatif,’’ ungkapnya.

Terkait bau, Su’udi menegaskan, jika tidak ada industri yang tidak mengeluarkan bau. Hanya saja, sesaui teknis, sejauh ini tidak ada kebocoran. Operasionalnya juga berjalan dengan baik.

’’Untuk bau sendiri kita tidak bisa mengklarifikasi secara spesifik atas keluhan masyarakat karena ya maaf, untuk lokasi sendiri kita ada dua industri, satu etanol dan pabrik gula. Namun kami tidak antikritik, kita kroscek kembali ke tim-tim teknis yang nantinya ke depan, tidak ada hal-hal sedikit pun keluhan,’’ jelasnya. (ori/fen)

Editor : Hendra Junaedi
#sungai tercemar #jetis mojokerto