Seperti yang diungkapkan Ariyanti. Warga Kecamatan Jetis ini resah lantaran BPJS orang tuanya yang diperoleh dari pemerintah Kabupaten Mojokerto mendadak tak aktif saat dipakai berobat.
Padahal, JKN yang dimiliki sangat dibutuhkan untuk kepentingan kesehatan ibunya. ’’Kami tahunya tidak aktif saat jadwal kontrol kemarin. Kata petugas rumah sakitnya, BPJS-nya mati,’’ ungkapnya.
Semula dia tak percaya. Untuk membuktikannya, dia sempat melakukan pengecekan kepesertaan ibunya pada aplikasi JKN. ’’Ternyata benar pada notifikasinya. Status PBI atas nama ibu saya tidak aktif atau nonaktif,’’ ceritanya.
Penonaktifan JKN ini tentu membuat keluarganya gelisah. Karena ia harus rutin kontrol ke RS setelah ibunya menjalani operasi akibat penyakit yang dideritanya Juni lalu.
’’Habis dioperasi, makanya harus rutin kontrol. Kalau BPJS dari pemerintah ini tidak bisa diaktifkan lagi, ya tidak tahu lagi gimana nanti,’’ tegasnya.
Peristiwa serupa juga dialami Saudah, 68. Nenek ini juga sempat terkejut lantaran kartu JKN yang di bawahnya tak bisa dimanfaatkan saat berobat di puskesmas. Bedanya, nomor kartu ini sudah tidak terdeteksi lagi.
Akibatnya, dia yang berobat akibat gatal-gatal pada tubuhnya harus merogoh kocek pribadi. ’’Tidak tahu, kenapa kok tidak bisa dipakai. Kartu ini sudah lama dapat dari pemerintah. Sekarang berobatnya ya bayar,’’ ungkapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto dr Ulum Rokhmat Rokhmawan melalui PJ Program BPJS Bidang Yankes Dinkes Suti Alfiati mengatakan, pemda tengah melakukan rasionalisasi kepesertaan.
Kebijakan itu sebagai bentuk efisiensi anggaran yang tengah digaungkan pemerintah. ’’Ada rasionalisasi kepesertaan. Jika nonaktif dan diurus, akan kami rekapitulasi untuk diusulkan aktivasi ke BPJS. Dan sekarang kami sudah proses reaktivasi,’’ katanya.
Menurutnya, belakangan dinkes juga tengah melakukan pemutakhiran data kepesertaan PBI-JKN yang ditanggung APBD 2023. Sehingga, setiap tahunnya terjadi perubahan data terhadap sasaran PBI APBD.
’’Pokoknya per Juli itu ada 140.100 jiwa terdaftar sebagai peserta PBID. Tapi yang dinonaktifkan berapa jumlah pastinya belum tahu. Karena fluktuatif, karena ada yang meninggal secara otomatis kita nonaktifkan,’’ tegasnya. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah