MEMANG, program ini hanya menyasar dua desa di Kabupaten Mojokerto, yakni Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, dan Desa Batankrajan, Kecamatan Gedeg. Di mana syarat utamanya adalah desa tersebut harus berstatus mandiri. Kepala Desa Batankrajan Antony Wijohari mengatakan, pihaknya memanfaatkan program tersebut untuk menghidupkan kembali ekonomi warga melalui pengelolaan BUMDes.
’’Ini program desa berdaya dari provinsi. Satu kabupaten yang dapat itu ada Desa Bejijong dan Batankrajan. Karena desa di Mojokerto kan sudah berstatus desa mandiri semua. Karena memang syarat dapat program ini ya harus desa mandiri,’’ ujar Tony.
Nama gumregah sengaja dipilih karena memiliki makna filosofis. ’’Kalau arti gumregah sendiri, bangkit, bergerak, hidupkan lagi semangatnya. Karena program ini harus memunculkan ikon desa,’’ jelasnya.
Gumregah diimplementasikan ke dalam pujasera atau Pusat Jajanan Serbaguna yang pengelolaannya diserahkan kepada BUMDes Batankrajan. Pemdes optimistis tempat baru ini bakal menjadi pusat kuliner sekaligus ikon desa.’’Gumregah merupakan program yang diimplementasikan ke Pujaseraku ini. Karena kita harus memunculkan ikon desa kita. Di mana pujasera nanti ini dikelola oleh BUMDes,’’ imbuhnya.
Beragam menu akan tersedia di Gumregah Pusat Kuliner. Pada pagi hari, pengunjung bisa menemukan penjual ikan, lauk pauk, dan nasi jagung. Sementara di sore hingga malam hari, tersedia mi ayam, nasi goreng, hingga aneka jajanan.
’’Di pujasera ini ada beragam penjual. Pagi, ada yang jual ikan lauk pauk nasi jagung. Sore, ada yang jual mi ayam, nasi goreng, dan berbagai macam camilan kayak pentol cireng, tahu uap, es jus, es jeruk, gorengan, gado-gado, dan sebagainya,’’ bebernya.
Pemdes Batankrajan menargetkan Gumregah Pusat Kuliner menjadi penggerak ekonomi baru di desa. Melalui pengelolaan BUMDes dan ragam kuliner yang ditawarkan, pusat jajanan tersebut diharapkan mampu menarik warga sekitar maupun pengunjung dari luar desa. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto