Desa Tempuran, Kecamatan Pungging, Terapkan Jumputan untuk Mendukung Kegiatan Agustusan

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 08:11 WIB
KEMERIAHAN: Semarak Agustusan di Dusun Bakalan (Njuwok), Desa Tempuran, Kecamatan Pungging menggunakan hasil uang jumputan warga, Sabtu (29/8) lalu. (Dodik Rudiyanto/JPRM)
KEMERIAHAN: Semarak Agustusan di Dusun Bakalan (Njuwok), Desa Tempuran, Kecamatan Pungging menggunakan hasil uang jumputan warga, Sabtu (29/8) lalu. (Dodik Rudiyanto/JPRM) 

Hidup bermasyarakat dan bergotong-royong masih menjadi filosofi hidup dalam masyarakat pedesaan. Salah satu wujudnya dirupakan jumputan, iuran rutin dari warga di Dusun Bakalan, Desa Tempuran, Kecamatan Pungging ini.

ISTILAH jumputan mungkin dalam jaman modern saat ini terdengar agak asing. Mungkin dalam kata lainnya bisa di bilang iuran. Istilah jumputan bagi warga desa sudah sangat familiar. Bahkan di beberapa desa masih menerapkan jumputan.

Itu seperti halnya di sejumlah dusun di Desa Tempuran, Kecamatan Pungging. ’’Memang benar, jumputan ini masih ada di dusun,’’ kata Kasi Kesejahteraan Pemerintah Desa Tempuran, Yudi Santoso.

Yudi sapaan akrabnya ini mengatakan, jumputan ini dilakukan atas kesepakatan semua warga. Untuk pengumpulan dan besaran uang jumputan ini bervariatif. ’’Pengumpulan uang jumputan di beberapa dusun kebanyakan bulanan, kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000,’’ ujarnya.

Menurutnya, keberadaan jumputan dapat meringankan beban biaya jika ada kegiatan atau keperluan di dusun masing-masing. Mulai dari perbaikan penerangan jalan kampung hingga keperluan lomba Agustusan.

’’Sebagian besar biasanya uang jumputan ini untuk mem-back up kegiatan Agustusan. Dengan begitu, warga tidak perlu lagi mengeluarkan uang saat ada kegiatan tersebut,’’ ungkapnya.

Yudi menambahkan, tradisi ini secara tidak langsung dapat menciptakan keguyub-rukunan dan kegotongroyongan antarwarga, sekaligus memupuk rasa saling peduli.

’’Harapannya, jumputan ini bisa menambah keguyuban antarwarga. Semua hal yang berhubungan dengan kegiatan desa harus ditanggung bersama-sama, tidak bisa sendiri. Dengan begitu, beban akan terasa lebih ringan,’’ pungkasnya. (dik/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
tradisi jumputan kabupaten mojokerto kecamatan pungging desa tempuran Desa Kita