Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Ajak Gen Z dan Alpha Uri-Uri Kesenian Ludruk  

Sofan Kurniawan • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 10:44 WIB
LATIHAN DI TERAS: Sekelompok anak muda berlatih kesenian ludruk di pelataran rumah salah satu warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Senin (1/9). Kalangan muda dari generasi Z dan Aplha diajak mengenal kesenian tradisional khas Jawa Timur tersebut. (Sofan Kurniawan/JPRM)
 
LATIHAN DI TERAS: Sekelompok anak muda berlatih kesenian ludruk di pelataran rumah salah satu warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Senin (1/9). Kalangan muda dari generasi Z dan Aplha diajak mengenal kesenian tradisional khas Jawa Timur tersebut. (Sofan Kurniawan/JPRM)   

Kesenian ludruk adalah salah satu kesenian budaya yang tumbuh di Mojokerto. Di era digital, teater tradisional tersebut terus berupaya beradaptasi. Salah satunya dengan terus diajarkan ke kalangan generasi muda seperti di Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg ini. 

SUARA gamelan terdengar sayup dari pelataran sebuah rumah di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Senin pagi (31/8). Di halaman itu, sekelompok anak muda dan pelajar tengah serius berlatih ludruk.

Di tengah generasi yang tumbuh bersama TikTok, Instagram, dan YouTube, mereka justru memilih mempelajari kidungan, jula-juli, tari remo, lawakan hingga lakon drama.

Deril, salah seorang pemain yang juga warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, mengaku tertarik mempelajari ludruk karena kesenian tersebut merupakan bagian dari budaya Jawa Timur yang perlu dilestarikan. ’’Ludruk itu budaya asli Jawa Timur. Semestinya kita sebagai pemuda-pemudi harus melestarikannya,’’ ujarnya.

Latihan tersebut diikuti pelajar mulai tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa. Sutradara ludruk, Kukun Triyoga, mengatakan para pemain biasanya berlatih di Sanggar Komunitas Persada. Latihan di Losari kali ini dilakukan untuk mempersiapkan diri mengikuti Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.

Bagi mereka, latihan bukan sekadar adu peran. Di dalamnya ada proses mengenal karakter, membangun keberanian di atas panggung sekaligus memahami kembali akar kebudayaan sendiri.

Ludruk sendiri tumbuh dari kehidupan rakyat Jawa Timur. Kidungan, jula-juli, lawakan dan lakonnya sejak dahulu dekat dengan persoalan masyarakat. Pada masa pendudukan Jepang, ludruk bahkan menjadi salah satu medium kritik terhadap penguasa. Cak Durasim dikenal sebagai salah satu tokoh yang menggunakan kidungan untuk menyuarakan penderitaan rakyat.

Kini tantangannya berbeda. Panggung ludruk harus bersaing dengan hiburan digital yang hadir dalam hitungan detik. Namun bagi generasi muda di Losari, perubahan zaman bukan alasan untuk meninggalkan tradisi.

Kukun berharap ludruk dapat terus diwariskan, bukan hanya kepada Gen Z, tetapi juga Gen Alpha.

Sebab tradisi tidak selalu harus dipertahankan dengan cara lama. ’’Ludruk bisa berubah mengikuti zaman, selama ruhnya tetap dijag,’’ imbuh Kukun. Dari pelataran rumah di Losari, suara gamelan itu menjadi tanda ludruk belum mati. Selama masih ada generasi yang mewarisi. (fan/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
kabupaten mojokerto kecamatan gedeg kesenian ludruk Desa Sidoharjo