Pemerintah Desa (Pemdes) Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto tengah gencar mengembangkan ekosistem wisata desa. Salah satunya dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang akan menjadi penggerak kegiatan wisata berbasis sejarah, tradisi lokal, hingga destinasi slow living.
LANGKAH pemberdayaan SDM setidaknya telah dimulai sejak tahun lalu melalui pelatihan bahasa Inggris dan pemandu wisata (guiding) yang diikuti masyarakat setempat. Pelatihan ini diberikan karena wisata yang dikembangkan tak hanya menyasar wisatawan lokal, melainkan juga turis mancanegara.
”Banyak potensi desa yang sebenarnya bisa dijadikan wisata, namun butuh pembangunan SDM melalui kerja sama kemitraan dengan universitas dan akademisi,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Gemekan Hendra Agung Setiawan, Selasa (25/8).
Menurutnya, berbagai tradisi lokal seperti acara Maulid Nabi, Isra Mikraj, dan ruwah desa bisa dikemas menjadi wisata kebudayaan untuk pengunjung luar negeri. ”Event rutin adat desa ini tidak dimiliki negara lain, sehingga nanti bisa dipoles oleh pokdarwis (kelompok sadar wisata) dan LAD (lembaga adat desa) supaya bisa memiliki nilai tawar dan daya tarik untuk turis mancanegara,” tuturnya.
Wisata tradisi juga mencakup kehidupan desa yang masih asri dengan aktivitas pertanian, kerajinan tangan, hingga kegiatan UMKM seperti produsen kerupuk dan tempe. Berbagai aspek tersebut selaras dengan tren slow living yang kini tengah diganderungi masyarakat kota.
”Bagaimana nanti tempat-tempat itu jadi paket wisata slow living. Wisatawan juga bisa belajar menari, mengunjungi situs bersejarah, dan sebagainya,” tandas dia.
Hendra mengungkapkan, pembangunan SDM menjadi aspek penting dalam menjalankan konsep wisata betaraf internasional itu. Tak hanya kemampuan berkomunikasi, masyarakat juga telah dilatih mempromosikan potensi desa lewat pelatihan membuat konten digital yang menarik. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto