Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto berkomitmen membentuk ketahanan pangan masyarakat. Di tengah keterbatasan lahan, warga dilatih menerapkan urban farming melalui budi daya tanaman hidroponik dengan memanfaatkan barang bekas sebagai media tanam.
PELATIHAN budi daya tanaman hidroponik dibuka langsung oleh Camat Mojosari Yulius Bakhtiar di kantor Kelurahan Sarirejo, Rabu (19/8) lalu. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai komponen masyarakat Kelurahan Sarirejo.
’’Para peserta masing-masing dari kader Posyandu 6 SPM (Standar Pelayanan Minimal), ibu RT, serta warga Kelurahan Sarirejo,’’ ungkap Lurah Sarirejo Purwo Edi Susanto.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat materi sekaligus praktik langsung dari narasumber yang ahli penanaman hidroponik. Purwo menyebut, sistem bercocok tanam ini dinilai cocok diterapkan di Kelurahan Sarirejo yang berada di kawasan Kota Mojosari dengan kepadatan penduduk tinggi dan minim lahan. ’’Kalau di kota itu kan lahannya sempit, untuk cari lahan tanah kadang-kadang kesulitan. Kalau hidroponik kan hanya butuh air sama media tanam. Untuk pupuknya juga bisa memanfaatkan lindi yang dihasilkan dari sampah organik dari limbah rumah tangga,’’ ujarnya.
Untuk menekan biaya, pelatihan ini fokus memanfaatkan barang-barang bekas. Selain murah, media tanam juga bisa diterapkan di sisa pekarangan yang ada. ’’Kalau idealnya hidroponik kan memakai pipa yang butuh biaya yang besar. Tapi kami fokuskan memanfatkan galon bekas, ember yang tidak terpakai, gelas plastik, maupun kardus sebagai media tanamnya,’’ jelas Purwo.
Tanaman yang dikembangkan dalam pelatihan ini jenis sayur-sayuran. Purwo berharap, ilmu yang didapat para peserta bisa diterapkan langsung di rumah masing-masing. ’’Kemarin sudah memahami semua dan cukup antusias. Semoga bisa dipraktikkan di rumah untuk mendukung ketahanan pangan keluarga,’’ pungkasnya. (ram/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto