Program ketahanan pangan yang digencarkan pemerintah telah diaplikasikan Pemerintah Desa Pekuwon Bangsal dengan apik. Salah satunya yakni dengan inovasi ternak ayam petelur dengan melibatkan warga langsung.
LANGKAH Pemerintah Desa Pekuwon, Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto dalam pengaplikasian ketahanan pangan yakni ternak ayam petelur mungkin beda dengan kebanyakan desa.
Untuk program ketahanan pangan beternak ayam petelur selalu membutuhkan kandang yang besar dan luas. Namun, beda halnya dengan pemdes satu ini. ’’Program ketahanan pangan yang dikelola BUMDes Karya Mandiri Desa Pekuwon Bangsal ini mungkin beda dengan yang lainnya,’’ kata Kepala Desa Pekuwon, Karisma Utomo saat ditemui Selasa (11/8).
Menurutnya, inovasi atau strategi yang dipakai ini sangat simpel dan sangat efisien dan efektif. ’’Strategi ini sebelumnya kami konsultasikan dulu dengan pendamping. Setelah dinyatakan boleh dan aman, baru kami jalankan,’’ tandasnya.
Karisma, sapaan akrabnya ini mengatakan, strategi sistem mitra atau kerja sama dengan pihak ketiga, dalam hal ini warga setempat. Program tersebut dinilainya sangat bagus dan efektif. Namun, untuk menyakinkan warga dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. ’’Untuk sosialisasi saja membutuhkan kurang lebih delapan bulanan. Awalnya, kita melalui ketua RT dan tiap ada rapat desa selalu kami sosialisasikan program ini,’’ ujarnya.
Untuk rekruitmen kemitraan ini, lanjut dia, terbilang mudah. Calon mitra diminta menyerahkan identitas diri dan mempunyai lahan minimal 2 meter x 2 meter saja. ’’Calon mitra kami seleksi terlebih dahulu. Mulai kesungguhan user-nya dan survei lokasi,’’ imbuhnya.
Setelah dinyatakan memenuhi kriteria, calon mitra ini akan diberikan pelatihan terkait dengan pemberdayaan dan beternak ayam petelur. ’’Untuk pelatihan sendiri hanya 1 hari dilakukan di Balai Desa Pekuwon. Narasumber dari Kediri yang berkompeten dalam usaha ayam dan kandang,’’ terangnya.
Dijelaskannya, mitra beternak ayam petelur ini diberi fasilitas dari BUMDes. Yakni, mendapat 20 ekor ayam petelur serta kandang ukuran 1,5 meter. Dengan sistem kemitraan ini, pihaknya bisa memangkas biaya pembuatan kandang atau bangunan. ’’Jadi, modal mitra itu Rp. 0. Mitra hanya keluar untuk biaya perawatan saja,’’ bebernya. Sedangkan untuk pakan, mitra bisa beli di BUMDes sesuai yang diinginkan. ’’Untuk hasil panen, yakni telurnya akan dibeli BUMDes dengan harga kandang,’’ ucapnya.
Dari BUMDes sendiri, lanjut Karisma, memberikan keleluasan mitra untuk mengembangkan usahanya. Yakni, mitra bisa beli lagi ayam petelur dan dirawat sendiri. ’’Kemitraan ini juga sebagai pembelajaran warga dan mengembangkan usahanya. Sedangkan untuk mitra sendiri kami batasi hanya 29 mitra,’’ pungkasnya. (dik/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto