Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Wujud Ketahanan Pangan yang Sesungguhnya

Yulianto Adi Nugroho • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 06:49 WIB

 

PELOPOR KEDAULATAN PANGAN: Kepala Desa Gunungsari Susanto menerima penghargaan Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 dari Mendes PDT Yandri Susanto, di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Selasa (7/7). (Anggi Fridinato/JPRJ)
PELOPOR KEDAULATAN PANGAN: Kepala Desa Gunungsari Susanto menerima penghargaan Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 dari Mendes PDT Yandri Susanto, di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Selasa (7/7). (Anggi Fridinato/JPRJ)

Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto adalah potret ketahanan pangan yang sebenarnya. Petani di desa ini mampu menanam padi, jagung, dan palawija sepanjang tahun berkat kreativitasnya. Di sini lain, ada kelompok ternak yang merawat hampir seratus sapi, lengkap dengan kandang komunal hingga bengkel hewan ternak. Walhasil tak hanya makmur dari bertani, warga pun sejahtera lewat peternakan. 

KESUKSESAN desa mewujudkan ketahanan pangan diganjar penghargaan Pelopor Kedaulatan Pangan Berbasis Kemandirian Lokal dalam ajang Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026, di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Selasa (7/7). Tak main-main, apresiasi itu diserahkan secara langsung oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto. 

Kepala Desa Gunungsari Susanto mengatakan, pertanian di desanya kini sudah sangat maju. Total lahan pertanian non-tebu mencapai 352 hektare, angka ini berkali-kali lipat lebih luas dibanding desa lainnya.

TINGKATKAN PRODUKTIVITAS: Petani Desa Gunungsari menerima bantuan traktor dari Pemprov Jatim pada 2025.
TINGKATKAN PRODUKTIVITAS: Petani Desa Gunungsari menerima bantuan traktor dari Pemprov Jatim pada 2025.

Selain bercocok tanam di lahan milik sendiri, tak sedikit warga yang menggarap lahan milik Perhutani. ”Di sini hampir tidak ada musim, setiap saat ada warga yang panen,” ujarnya. 

Menurut Santo, sapaan karib Susanto, warga memiliki kreativitas yang tinggi dalam mengolah lahan pertanian. Ia mencontohkan, pada saat yang bersamaan, ada petani yang panen dan mulai tanam jagung.

”Kreativitas warga sudah sangat luar biasa, hasil dari bertani jagung juga padi dan palawija sudah sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok,” imbuhnya. 

TUJUAN STUDI: Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya melakukan praktik palpasi sapi di kandang komunal Kelompok Lembu Makmur pada 2025.
TUJUAN STUDI: Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya melakukan praktik palpasi sapi di kandang komunal Kelompok Lembu Makmur pada 2025.

Selain tanaman pokok padi dan jagung, tak sedikit warga menanam jenis palawija seperti cabai, terong, kacang tanah, sawi, mentimun, labu air, dan waluh. Hasil pertanian itu biasanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan harian. Di sisi lain, warga juga memiliki sumber pendapatan lain dari hasil memelihara ternak sapi dan kambing.

RAPAT SAMBIL WISATA: Anggota Kelompok Lembu Makmur menggelar RAT 2025 di kawasan wisata Magetan.
RAPAT SAMBIL WISATA: Anggota Kelompok Lembu Makmur menggelar RAT 2025 di kawasan wisata Magetan.

”Mayoritas petani kami punya ternak sapi yang jadi penghasilan tahunan, bisa untuk beli kendaraan dan lain-lain. Dari semua yang ada, ya inilah ketahanan pangan,” tutur Santo. (adi/ris)

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
desa gunungsari kabupaten mojokerto kecamatan dawarblandong ketahanan pangan