Desa Duyung, Kabupaten Mojokerto, Atasi Krisis Air Tahunan, Kaji Penanganan Jangka Panjang

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 08:50 WIB
DISALURKAN: Pemprov Jatim melalui BPBD Kabupaten Mojokerto menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan di Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Rabu (22/7) lalu. (Rizal JPRM)
DISALURKAN: Pemprov Jatim melalui BPBD Kabupaten Mojokerto menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan di Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Rabu (22/7) lalu. (Rizal JPRM) 

Meski dikenal memiliki sumber mata air yang melimpah, Desa Duyung, Kecamatan Trawas, menjadi salah satu wilayah di Kabupaten Mojokerto yang terdampak krisis air bersih rutin tiap tahun. Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah desa (pemdes) setempat tengah mengkaji pemenuhan kebutuhan air melalui sistem pipanisasi sebagai solusi penanganan jangka panjang.

KEPALA Desa Duyung, Juriyanto Bambang Siswantoro mengungkapkan, krisis dialami di Dusun Bantal dan Dusun Duyung. Dikatakannya, bencana kekeringan tersebut tidak hanya dialami musim kemarau ini saja, melainkan sudah ditanggung selama bertahun-tahun. ’’Kalau tidak salah sudah sejak 15 tahun yang lalu kondisi seperti ini (krisis air, Red), istilahnya sudah jadi langganan,’’ ungkapnya.

Menurut Juriyanto, krisis air pada kemarau ini paling parah dialami di Dusun Duyung yang melanda 90 rumah di tiga RT yang terdampak. Selain itu, kekurangan air juga dialami di dua RT di Dusun Bantal dengan jumlah 60 rumah yang terdampak.

Tak hanya berdampak pada ketersediaan air minum masyarakat, kekeringan juga mengakibatkan lahan pertanian sulit mendapat pengairan. Kendati sumber mata air di kawasan kaki Gunung Penanggungan ini terbilang melimpah, namun pemukiman di dua dusun yang berada di dataran tinggi membuat air sulit dialirkan. ’’Sumber air di Desa Duyung ini sebenarnya besar, tapi ada di bawah. Jadi untuk sampai ke sini (pemukiman, Red) sulit,’’ ujarnya.

Sejak Rabu (22/7), Pemprov Jatim melalui BPBD Kabupaten Mojokerto mulai mengirimkan bantuan air bersih ke Desa Duyung. Setiap hari, total sebanyak 8.000 liter air secara rutin disuplai ke dua lokasi yang terdampak.

Namun, dropping air tersebut hanya sebagai penanganan darurat. Sebagai solusi jangka panjang, papar Juriyanto, dibutuhkan sentuhan infrastruktur pendukung berupa sistem jaringan air bersih.

Berdasarkan hasil kajian, pemenuhan kebutuhan air bersih dapat dilakukan melalui pembangunan instalasi dan peralatan penarik air dari sumber mata air. ’’Sumbernya sebenarnya berlimpah. Tapi karena posisinya di bawah, kita memang butuh bantuan untuk menarik air ke atas agar masalah ini selesai secara permanen,’’ ulasnya.

Hanya saja, keterbatasan anggaran menjadi salah satu ganjalan untuk merealisasikannya. Juriyanto menyebut, anggaran untuk pengadaan peralatan dan pipa infrastruktur sistem air bersih diestimasikan sekitar Rp 150 juta-Rp 200 juta.

Tak hanya itu, dibutuhkan biaya operasional untuk listrik pompa air yang cukup besar jika hanya dibebankan kepada pihak desa. ’’Biaya ini juga yang menjadi persoalan, karena satu bulan bisa Rp 2 juta lebih untuk listrik pompa saja,’’ tandasnya.

Karenanya, Pemdes Duyung berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun Pemprov Jatim untuk membantu mencari solusi permanen untuk mengatasi krisis air tahunan di Desa Duyung. Agar, masyarakat tidak memikul beban krisis air setiap musim kemarau tiba. (ram/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
desa duyung krisis air tahunan kabupaten mojokerto Kecamatan Trawas bencana kekeringan