DESA di wilayah utara Sungai Brantas ini memiliki luas lahan 119 hektare (ha), dengan jumlah penduduk mencapai 3.900 jiwa. Mereka tersebar di 27 RT dan 8 RW. ’’Sebagian besar warga bekerja sebagai petani, mencapai 60 persen. Selebihnya beragam, ada yang wiraswasta, pegawai negeri sipil (PNS), dan karyawan,’’ terang Kepala Desa Bandung Komari Arifin.
Uniknya, kendati didominasi petani, namun peran UMKM konfeksi yang telah berjalan sejak tahun 1980-an dinilai mampu menopang perekonomian warga. Komari mengatakan, setidaknya terdapat 150-an pemilik usaha yang selama ini menggantungkan pendapatannya dari bisnis kerajinan konfeksi. ’’Ada yang mandiri (perseorangan) sampai usaha skala sedang dengan jumlah karyawan antara 10-20 orang. Selebihnya pekerja rumahan,’’ imbuh Komari.
Para perajin itu membagi peran dan tugas. Sebagai penjahit, sablon, desain, cutting, hingga tenaga pengiriman. Karya konfeksi yang dihasilkan juga tak kalah beragam. Dari seragam sekolah, pegawai/karyawan, jaket, hingga kaus dengan berbagai jenis dan desain berkualitas. ’’Selain melayani pesanan lokal, swasta, dan pemerintahan, terbanyak justru datang dari Kalimantan, dan itu rutin,’’ tegasnya.
Selaras dengan itu, pendapatan yang dikantongi warga perajin konfeksi per hari juga relatif lumayan. Yaitu antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per orang. Sehingga berkat keberlangsungan kerajinan fashion ini, desa di ruas jalan penghubung Mojokerto-Lamongan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra konfeksi terbesar di Kabupaten Mojokerto. ’’Sebagai bentuk dukungan, pemdes memfasilitasi para perajin untuk peningkatan kapasitas mereka. Warga dilatih langsung oleh dinas terkait dengan didampingi tenaga profesional,’’ beber Komari. (ris/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto