KEPALA Desa Ketapanrame Zainul Arifin menambahkan, kendati dirinya dan pemdes telah banyak diganjar penghargaan, tetapi bukan tidak mungkin dalam perjalanannya tanpa menemui kendala. Ia mencontohkan, di tengah efisiensi anggaran dan ketidakpastian ekonomi, belakangan tak sedikit warga sebagai mitra penyewa lapak di Taman Ghanjaran dan Sumber Gempong kelimpungan membayar nilai sewa.
Kondisi itu mayoritas dipengaruhi oleh jumlah kunjungan wisatawan yang naik-turun. Sehingga, lanjutnya, pemdes, BPD, pengurus dan direksi BUMDes bersepakat mengeluarkan kebijakan dalam bentuk keringanan biaya sewa bagi mitra usaha. ’’Maka, ada kebijakan penyesuaian. Justru dengan kondisi sekarang ini jangan sampai memberatkan mereka,’’ tandasnya.
Di sisi lain, pemdes turut mengajak instrumen lembaga desa membuka ruang evaluasi, pengawasan, dan diskusi demi pengembangan usaha BUMDes ke depan. Yakni, melalui forum laporan pertanggungjawaban (LPj) KUB setiap bulan kepada pengurus maupun jajaran direksi.
Di samping pengurus BUMDes sendiri juga menyampaikan LPj kepada pemdes dan BPD dua kali dalam setahun. ’’Dengan harapan, agar setiap kendala dan tantangan yang dihadapi ke depan dapat kita evaluasi bersama, demi kemandirian usaha dan kesejahteraan masyarakat,’’ jelasnya.
Kedepankan Nilai Manfaat bagi Masyarakat
Sudah tak terhitung lagi penghargaan buah dari prestasi mengembangkan desa wisata dan kemandirian usaha dianugerahkan kepada kepala desa maupun Pemdes Ketapanrame, kurun 10 tahun terakhir ini. Mulai dari penghargaan tingkat kabupaten, Jawa Timur, hingga nasional.
Ruang kerja kepala desa di kompleks kantor balai desa bahkan tak mampu men-display semua trofi, vandel, dan sertifikat penghargaan. ’’Selain dari pemerintah daerah, provinsi, dan kementerian, penghargaan ini juga dianugerahkan oleh perusahaan swasta dan BUMN,’’ kata Zainul sembari menunjukkan berbagai penghargaan di ruang kerjanya.
Ia menyatakan, penghargaan-penghargaan tersebut menjadi pemantik pemdes dan BUMDes untuk terus berinovasi menghadirkan karya-karya terbaik. Utamanya dalam hal melibatkan masyarakat desa sebagai penggerak sekaligus pelaku sektor usaha.
Zainul menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua elemen masyarakat. Berkat kerja sama dan komitmen yang dibangun, desa dengan 60 persen penduduknya bekerja sebagai wiraswasta dan 40 persen petani ini, mampu menjadi pelopor penggerak sektor ekonomi desa secara mandiri dan berkelanjutan. ’’Pada prinsipnya, aset-aset yang ada ini harus tetap memberikan manfaat bagi semua masyarakat,’’ jelasnya. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah