Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Desa Ketapanrame, Kabupaten Mojokerto Usung Tagline Sobo Ketapanrame

Moch. Chariris • Sabtu, 11 Juli 2026 | 01:48 WIB
BERPRESTASI: Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin menerima penghargaan Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 yang diserahkan Mendes PDT Yandri Susanto, di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Selasa (7/7). (Sofan JPRM)
BERPRESTASI: Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin menerima penghargaan Jawa Pos Radar Mojokerto Award 2026 yang diserahkan Mendes PDT Yandri Susanto, di Ballroom Sunrise Hotel Mojokerto, Selasa (7/7). (Sofan JPRM)

 ’’Pada prinsipnya, aset-aset yang ada ini harus tetap memberikan manfaat bagi semua masyarakat.’’ 

Zainul Arifin

Kepala Desa Ketapanrame  

Sobo Ketapanrame. Tagline ini menggambarkan sebuah desa mandiri di kawasan Gunung Welirang, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Dikenal kaya akan potensi sumber daya alam (SDA). Mulai dari pertanian, perkebunan, hutan, hingga air berlimpah. Demikian ini tertuang dalam desain logo berkarakter trofi juara yang dikemas apik pemerintah desa (pemdes). 

WILAYAH berada di antara perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan tersebut mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif secara mandiri melalui kelompok mitra usaha (KUB) di bawah nauangan BUMDes Mutiara Welirang.

Pendapatan yang dirasakan masyarakat tersebar di tiga dusun itu di antaranya berupa destinasi wisata keluarga Taman Ghanjaran dan wisata sawah Sumber Gempong.

Dari kedua objek wisata potensial ini, BUMDes berhasil meraih omzet kisaran Rp 2,8 miliar per tahun. ’’Makna Sobo Ketapanrame itu terkandung nilai-nilai filosofis. Ada unsur Gunung Welirang, Surya Majapahit, hutan, air, padi melambang pertanian, dan kopi menggambarkan perkebunan,’’ tutur Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin.

IKONIK: Wisatawan menikmati wahana favorit di Taman Ghanjaran, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.
IKONIK: Wisatawan menikmati wahana favorit di Taman Ghanjaran, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.

Desa berpenduduk 5.900 jiwa ini memang telah menerapkan program penggerak inovasi kreatif berbasis kemasyarakatan dan berdampak. ’’Sistem pengelolaan manajemennya semua dinaungi BUMDes,’’ imbuhnya.

Sadar atas anugerah SDA berlimpah, desa seluas 345,64 hektare (ha) atau setara 35 kilometer (km) terbagi dari Dusun Ketapanrame, Sukorame, dan Slepi ini lantas menggulirkan pengembangan sektor wisata keluarga berbasis persawahan.

’’Dalam bahasa Jawa, sobo bermakna sering datang, dan Ketapanrame sendiri adalah nama desa kami,’’ jelas Zainul.

WISATA SAWAH: Wisatawan disuguhi beragam spot pilihan saat mengunjungi objek wisata di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.
WISATA SAWAH: Wisatawan disuguhi beragam spot pilihan saat mengunjungi objek wisata di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.

Pesona Taman Ghanjaran dan Sumber Gempong 

Tahun 2016, pemdes menginisiasi pembangunan destinasi wisata keluarga di Dusun Slepi bernama Taman Ghanjaran. Pesona wisata di atas lahan tanah kas desa (TKD) seluas 2,8 ha ini didirikan melalui program Bantuan Keuangan (BK) Desa senilai Rp 5 miliar. Untuk mengembangkan objek wisata buatan di Jalan Raya Trawas-Tretes itu, pemdes dan BUMDes kemudian membuka ruang investasi bagi warga desa.

Ruang investasi ini pun disambut positif oleh 435 KK (kepala keluarga). Namun, untuk memperkuat kemandirian desa, dalam menggulirkan program investasi, setiap KK dibatasi maksimal 10 lembar kupon. Di mana satu kuponnya bernilai Rp 1 juta. Dengan demikian, total ’’tanam saham’’ yang terkumpul mencapai Rp 3,8 miliar.

ALAMI: Wisatawan menikmati kejernihan dan kesegaran pemandian Sumber Gempong.
ALAMI: Wisatawan menikmati kejernihan dan kesegaran pemandian Sumber Gempong.

’’Bentuk investasinya melalui program urun dana warga sebagai sumber anggaran. Melibatkan masyarakat desa yang tergabung dalam KUB,’’ tutur pria yang telah menjabat kepala desa (kades) tiga periode berjalan ini.

Agar sistem pengelolaan manajemen unit usaha transparan dan berkembang, BUMDes dinakhodai pengurus dan direksi tak sekadar menaungi Taman Ghanjaran. Mereka juga mendapat tanggung jawab mengelola unit usaha lain.

Terbagi dalam beberapa kepengurusan dan kemitraan. Di antaranya ada Pokdarwis Rakasiwi, Kelompok Mitra Investasi, mitra homestay, hingga Kuliner Maju Mapan. ’’Muaranya semua saling mendukung demi pengembangan sektor usaha dan kemandirian desa,’’ papar Zainul.

Objek wisata keluarga Taman Ghanjaran mendapat respons dan apresiasi dari wisatawan/pengunjung berbagai daerah, swasta, hingga pemerintah. Pembangunan Taman Ghanjaran ini juga dinilai cukup brilian, karena menghadirkan view Gunung Penanggungan sebagai latar belakang. Kesejukan udara disertai dukungan alam di antara pegunungan, persawahan, perkebunan, hutan, dan air melimpah, menyempurnakan pendirian Taman Ghanjaran.

KONKRET: BUMDEs Mutiara Welirang menyerahkan bantuan tempat ibadah sebagai komitmen kepedulian sosial keagamaan.
KONKRET: BUMDEs Mutiara Welirang menyerahkan bantuan tempat ibadah sebagai komitmen kepedulian sosial keagamaan.

Dari hari ke hari, jumlah wisatawan dalam objek wisata dilengkapi 15 wahana ini terbilang cukup tinggi. Taman Ghanjaran berhasil kembali modal atau break event point (BEP) pada tahun pertama beroperasi.  ’’Dari sisi omzet, rata-rata di kisaran Rp 1,3 miliar per tahun,’’ bebernya.

Sumber pendapatan tersebut bukan saja dari suguhan wahana, seperti sepeda udara, bianglala, corousel, sepur kelinci, bom-bom car, virtual reality (VR), all-terrain vehicle (ATV), playground, kuda-kudaan, hingga kolam renang, melainkan turut didapat dari penjualan tiket, sewa lapak kuliner, dan potensi parkir kendaraan. ’’Kalau dari sektor wisatanya hanya 10 persen, tertinggi justru di wahana dan parkir, omzetnya bisa sampai 30 persen. Semua ini dikelola masyarakat sendiri,’’ tandasnya.

Merasakan kesuksesan ini, pada 2018 pemdes dan BUMDes sepakat mengembangkan sektor wisata lain, yaitu Sumber Gempong, di Dusun Sukorame. Jumlah peserta investasinya, lanjut Zainul, terdata 98 KK. Di dalamnya termasuk pemilik lahan berupa hamparan persawahan dan pekarangan seluas 3 ha. ’’Pada waktu itu, nilai investasi di Sumber Gempong ini sukses terkumpul angka Rp 800 juta lebih,’’ paparnya.

EDUKATIF: Bantuan Dana Sosial BUMDEs Mutiara Welirang diserahkan kepada lembaga pendidikan.
EDUKATIF: Bantuan Dana Sosial BUMDEs Mutiara Welirang diserahkan kepada lembaga pendidikan.

Anggaran ini kemudian dikelola sebagai modal pengembangan wisata berbasis persawahan tanpa mengubah potensi alam sebagai pendukung dan karakter utama. Serta menghadirkan wahana pendukung, seperti sepeda layang, kereta sawah, bebek terbang, perbaikan kolam renang sumber air, pembangunan lapak, hingga infrastruktur.  ’’Pendapatan dari objek wisata berbasis sawah ini rata-rata Rp 1,5 miliar, lebih tinggi dari Taman Ghanjaran,’’ tambah Zainul.

Berkat keterpaduan pemdes, BUMDes, dan KUB, kini semua masyarakat telah merasakan hasilnya. Dalam perjalanannya, pemdes menyadari, pendapatan dari dua sektor wisata alam yang dikelola terbilang fluktuatif alias naik-turun. Dengan demikian, omzet kotor per tahun selama ini tercatat rata-rata mencapai Rp 2,8 miliar. ’’Pernah mencapai angka tertinggi pada tahun 2023, raihan omzetnya hingga Rp 4 miliar,’’ paparnya. (ris/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
sobo ketapanrame kabupaten mojokerto Kecamatan Trawas jawa pos radar mojokerto desa ketapanrame