USIA pengelolaan bisnis ekonomi kreatif dari objek desa wisata berbasis hutan dan pegunungan yang dikelola warga ini memang terbilang relatif muda. Akan tetapi, berkat kematangan konsep dan inovasi manajemen, Bernah De Vallei dan Klurak Eco Park akhirnya mampu mengangkat derajat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Desa Kembangbelor Muktar Efendi menuturkan, berkah dari pendapatan ekonomi dua objek wisata tersebut, CV Bernah De Vallei pun rutin membagikan hasil laba pengelolaan dengan warga sebagai penanam modal. Yakni melalui skema deviden, yang digulirkan dua kali dalam setahun.
Pendapatan yang diraih ini merupakan komulatif penghasilan dari dua objek, yakni sebesar Rp 7,4 miliar per tahun. ’’Laba bersih itu kemudian dibagikan untuk warga 65 persen, selebihnya sebagai operasional dan pengembangan 35 persen,’’ jelasnya. Jajaran direksi dan pemdes juga berkomitmen untuk menyuntik pendapatan asli desa (PADes) yang diraih dari hasil suplai bahan pokok dan elpiji kepada UMKM di kawasan objek wisata, Rp 129 juta per tahun. ’’Selebihnya kemudian disisihkan menopang kebutuhan pembangunan berskala kecil, antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta,’’ ungkapnya.
Tingginya jumlah wisatawan yang datang, antara 40 ribu hingga 50 ribu orang per bulan, turut berdampak terhadap perputaran ekonomi warga Desa Kembangbelor. Seperti sektor kemandirian usaha penginapan, kuliner, UMKM, rest area, hingga jasa katering. ’’Sudah tentu sangat memberi manfaat. Kalau diperkirakan nilai manfaat ekonomi yang didapat warga bisa mencapai 30 persen,’’ tandas Muktar.
Sehingga atas keberhasilan kemandirian ekonomi dan pengelolaan wisata ini, pemdes meyakini level kesejahteraan masyarakat desa akan terus mengalami kenaikan. Dengan demikian, lanjut Muktar, ke depan pemdes kian memperkuat kolaborasi apik dengan warga dan CV Bernah De Vallei. Utamanya, dalam hal membentuk karakter masyarakat agar mempunyai kesadaran tinggi dalam meningkatkan perekonomian secara mandiri.
Di samping pemdes sendiri tak berhenti berinovasi menjalankan program insfrastruktur desa dan peningkatan sumber daya manusia (SDM). ’’Pada dasarnya, muaranya adalah kesejahteraan dan penghasilan masyarakat, melalui pemanfaatan potensi desa. Di dalamnya ada pesona alam, hutan, dan air berlimpah,’’ pungkas Muktar. (ris/fen)
Editor : Fendy Hermansyah