Keberadaan BUMDes memang sudah selayaknya menjadi sandaran pembangunan desa di masa depan. Terutama di tengah kondisi ketidakberdayaan Dana Desa (DD) yang semakin terbatas. Selain berhasil membagikan telur kepada warga, pemdes kini tengah menggulirkan program kuliah gratis sebagai langkah peningkatan sumber daya manusia (SDM).
KOMITMEN kolaboratif antara Pemerintah Desa (Pemdes) Bicak dan BUMDes Makmur Bicak mulai menunjukkan hasil nyata tahun ini. Fokusnya, kali ini Pemdes Bicak berorientasi dalam pengembangan program sosial-ekonomi. Yakni bersumber dari hasil usaha peternakan ayam petelur.
”Alhamdulillah, tahun ini pemdes bersama BUMDes Makmur Bicak berhasil menyalurkan bantuan telur sebanyak 1 kilogram kepada setiap kepala keluarga (KK) di Desa Bicak,” papar Kepala Desa Bicak Yunita Dwi Ratnasari, kemarin (26/6).
Secara keseluruhan, sekitar 1.700 kilogram telur telah dibagikan kepada warga sebagai bentuk nyata kepedulian dan manfaat usaha desa bagi masyarakat. Tidak berhenti pada program tersebut, tahun ini pula pemdes dan BUMDes mulai meluncurkan program investasi sumber daya manusia (SDM).
Melalui hasil pengembangan unit usaha BUMDes, tahun ini satu warga Desa Bicak meraih kesempatan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi (PT) secara gratis. Program perkuliahan ini menjadi langkah awal agar manfaat BUMDes tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas SDM desa. ”Semoga tahun depan lebih banyak lagi putra-putri Desa Bicak yang dapat kami kuliahkan,” imbuhnya.
Kolaborasi inklusif yang dibangun pemdes dan BUMDes kini menjadi contoh nyata, bahwa desa mampu bangkit dengan kekuatan sendiri. Sebab, desa tidak boleh bergantung selamanya pada berbagai program bantuan. ”BUMDes harus tumbuh menjadi kekuatan ekonomi mandiri yang menopang pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Komitmen tersebut diperkuat dengan prinsip kepemimpinan yang berpihak kepada seluruh warga desa tanpa terkecuali. ”Kekayaan desa wajib dinikmati oleh seluruh masyarakat desa. Tidak boleh hanya dirasakan segelintir pihak. Pembangunan harus adil, merata, dan inklusif,” tandas Yunita. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah