Desa Jumeneng, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, ditetapkan sebagai Desa Tangguh Bencana (Destana) tahun 2026. Melalui program ini, masyarakat dibekali kemandirian untuk lebih tanggap dan berpartisipasi dalam upaya pengurangan risiko bencana.
KEPALA Desa Jumeneng Suhariyanto menyatakan, pemerintah desa (pemdes) menyambut baik atas pembentukan Destana. Selain untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri, program yang dinisiasi BPBD Kabupaten Mojokerto ini juga mampu membentuk warga yang proaktif dalam menghadapi dan mengelola risiko bencana. ”Harapannya, agar masyarakat bisa lebih peduli, dan sigap kalau ada hal-hal terkait kebencanaan,” tandasnya, kemarin (27/4).
Tak hanya itu, masyarakat Desa Jumeneng juga diberi kemampuan mitigasi serta pemulihan pasca terjadi bencana. Suhariyanto mengatakan, pembekalan tersebut diperoleh melalui pemberian materi dan pelatihan dari personel relawan, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), dan BPBD Kabupaten Mojokerto. ”Pelatihan sudah selesai semua, tinggal nanti akan diberikan piagam,” tegas Suhariyanto.
Dia menuturkan, terbentuknya Destana di Desa Jumeneng akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Terlebih, desa yang berbatasan langsung dengan Sungai Brantas ini termasuk wilayah yang terpetakan berisiko terhadap bencana banjir.
Seperti yang terjadi pada malam Idulfitri 1447 Hijriah, 20 Maret lalu. Sebagian wilayah di Desa Jumeneng tergenang banjir yang dipicu jebolnya tanggul sungai.
Akibatnya, air sempat merendam kawasan permukiman warga dan menggenangi areal pertanian. ”Semoga ke depan masyarakat dapat lebih sigap kalau terjadi musibah,” pungkasnya. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah